24 C
Makassar
Tuesday, June 22, 2021
HomeKolomFikih Media Sosial

Fikih Media Sosial

SAAT INI, masyarakat berada di era teknologi digital dan abad megamekanis, sebuah abad dimana peran-peran manusia secara perlahan namun pasti mulai digantikan oleh peran mesin. Daniel J. Boorstin, seorang sejarawan Amerika menyatakan Technology is so much fun but we can drown in our technology. The fog of information can drive out knowledge.” Teknologi begitu menyenangkan, tetapi kita tak boleh tenggelam dalam teknologi. Arus informasi bisa jadi akan menampar pengetahuan kita.

Apa yang dikatakan oleh Daniel menjadi kenyataan, manusia mulai larut dan tenggelam dalam pusaran teknologi, bahkan terseret oleh sunami informasi yang bergerak cepat. Akibatnya, manusia kehilangan pegangan. Di satu sisi teknologi membawa manfaat bagi kehidupan, namun di sisi lain keberadaannya terkadang mengancam eksistensi nilai-nilai kemanusiaan.

Ada orang yang menggunakan media sosial sebagai media menyebarkan aib orang lain, mengungkapkan kegalauan, provoksi, fitnah, manipulasi, rasis atau pembodohan publik. Ironisnya, masyarakat pembaca atau penikmat media sosial juga terkadang belum mampu mencerna secara cerdas. Mereka bahkan terbawa arus provokasi dan fitnah atas sebuah konten yang belum jelas kebenarannya. Media sosial berubah menjadi “hantu” yang memperkeruh suasana sosial.

Media sosial sejatinya harus menjadi sebuah media virtual yang dapat dijadikan alat untuk menyuarakan ide, kegiatan, atau pikiran seseorang yang bersifat produktif.

Melalui media ini masyarakat juga bisa mendapat banyak informasi yang di upload atau di share oleh orang lain. Kesimpulannya, tanpa wawasan etika-moral dan fikih dalam pemanfaatan media sosial, para pengguna akan terjebak dalam kobangan dosa berjejaring.

Atas dasar pemikiran di atas, diperlukan pengetahuan literasi informasi yang berbasis pengetahuan fikih informasi. Literasi informasi merupakan sebuah pengetahuan tentang cara mengakses, memilih, mendefinisikan, menempatkan dan mengorganisir informasi. Pengguna harus memiliki pengetahuan yang cukup bagaimana memperlakukan informasi yang diperoleh, baik dalam perspektif etika media sosial, maupun dalam konteks fikih literasi informasi. Dalam konteks ini, dibutuhkan landasan hukum Islam yang memfokuskan pada pembahasan seputar etika dan fikih literasi informasi.

Ilmu fikih merupakan sebuah disiplin ilmu keislaman yang mengatur tata kehidupan manusia, baik dalam hubungannya dengan Tuhan, lingkungan maupun dengan sesama manusia.

Menurut Hasan Turabi (2003;50), fikih harus berkembang sesuai dengan konteks dan zaman. Fikih yang ada masih berkutat pada ijtihad dalam persoalan ibadah ritual dan masalah kekeluargaan, sementara persoalan ekonomi, kenegaraan dan termasuk persoalan fikih teknologi informasi belum memiliki kajian fikih komprehensif. Karena itu, diperlukan ijtihad menyampaikan kepada masyarakat bagaimana perspektif fikih literasi terhadap pemanfaatan media sosial.

Dalam pandangan hukum Islam, semua aktivitas manusia memiliki resiko hukum yang dapat dikategorikan menjadi hukum boleh wajib, sunat, boleh (mubah), makruh dan haram.

Secara sederhana dapat dijelaskan implikasi dari hukum tersebut yaitu; *wajib*; berpahala jika mengerjakan dan berdosa jika meninggalkan (misalnya salat lima waktu), *sunat*; berpahala dikerjakan dan tidak berdosa jika ditinggalkan (misalnya puasa Senin-Kamis), *mubah*; pilihan untuk melakukan atau tidak melakukan tanpa konsekuensi dosa atau pahala (misalnya pergi ke pasar) *makruh*; tidak berdosa jika dikerjakan, meski tidak disengani Tuhan (misalnya talak/cerai), *haram*, berdosa jika dikerjakan, (misalnya mencuri, korupsi, miras, dan lain-lain.

Di media sosial, seseorang sering meng-upload sesuatu atau sebaliknya mendapat posting berupa berita/tulisan maupun gambar. Konten itu bisa berbentuk informasi atau provokasi. Konten informasi misalnya memuat ulasan tentang ilmu pengetahuan, update status dan sejenisnya, sementara konten provokasi memuat tulisan, ulasan, atau gambar yang berpotensi menyudutkan atau memfitnah seseorang atau kelompok.

Di dalam media sosial (misalnya Facebook) terdapat pilihan menu antara like (suka), comment (komentar) dan share (bagikan). Pemilik akun tinggal memencet tombol untuk menentukan sikap antara suka, memberi comments atau membagi konten (share) yang diterima.

Akan tetapi, pengguna media harus tahu bahwa pilihan untuk meng-upload atau memencet like, comment dan share memiliki konsekuensi hukum fikih jika konten tersebut memiliki kriteria (a) benar atau tidak benar, (b) baik atau tidak baik, (c) mendatangkan manfaat atau mudarat, (d) bersifat emergency atau tidak.

*Dari kriteria ini lahir hukum sebagai berikut:*
1. Wajib, apabila konten yang di-upload, atau di share diyakini kebenarannya, bersifat baik, mendatangkan manfaat, dan emergency. Misalnya informasi pemerintah (BMKG) tentang akan datangnya bencana agar masyarakat waspada atau menghindar dari lokasi.

2. Sunnat. apabila konten yang di-upload atau di share, sifatnya baik, benar dan mendatangkan manfaat. Misalnya upload atau share informasi kesehatan, pengetahuan, tips bisnis, atau kata-kata mutiara yang dapat memberi motivasi dan inspirasi. Dalam konteks tertentu, kriteria sunat bisa berubah menjadi sunnat mu’akkad (mendekati wajib)

3. Mubah, apabila konten yang di upload atau di share sifatnya baik dan benar. Misalnya upload status yang berisi informasi tentang aktivitas seseorang.

4. Makruh, apabila konten yang di upload atau di share sifatnya benar, tetapi tidak baik dan tidak bermanfaat. Misalnya Upload atau share kegalauan, pertengkaran pribadi yang dapat dikomsumsi masyarakat umum. Status makruh bisa menjadi makruh tanzih yaitu mendekati kepada haram (dosa) apabila konten yang di upload-share berpotensi dapat menimbulkan keresahan sosial meski faktanya benar.

5. Haram, apabila konten yang di upload atau di share diyakini tidak baik, tidak benar dan tidak bermanfaat.

Uraian ini sejatinya menjadi pemikiran dan perenungan bagi pengguna media sosial, sebab media sosial pada dasarnya dapat menggiring penggunanya ke surga, juga bisa menghantarkan seseorang ke neraka.

Dr. Barsihannor, M.Ag. Dosen Pemikiran Islam UIN Alaudin Makassar

Redaksihttps://sivitas.id
Sivitas.id adalah portal berita online berbasis kampus yang didedikasikan sebagai ruang diskursif warga kampus. Anda bisa mengirimkan tulisan anda ke email redaksi di redaksi@sivitas.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img

Most Popular

Recent Comments