24 C
Makassar
Tuesday, September 21, 2021
HomeSastraCerpenCerpen: Haji Perempuan yang Didatangi Ka'bah

Cerpen: Haji Perempuan yang Didatangi Ka’bah

BEGITU melihat namanya masuk dalam daftar orang-orang yang melaksanakan haji tahun ini, Ibu Murni segera mengambil ponsel samsung keluaran terbarunya.  Jepreet….! Foto daftar calon jemaah haji yang naik tahun ini dan salah satunya adalah namanya, bersemayam damai di ponsel androidnya. 

Di atas mobil pribadinya, dalam perjalanan pulang, foto itu dipostingnya. Di beranda facebooknya muncullah hasil postingannya, foto daftar nama-nama yang naik haji, tentu dengan nama ibu Murni di antaranya. Mungkin kurang puas hanya di facebook, ia juga menayangkan di dinding instagramnya. Tidak lupa dibubuhinya kalimat, “Syukur al-hamdulillah, akhirnya ditakdirkan melaksanakan rukun Islam yang kelima.

Tidak berselang lama, postingannya segera dibanjiri komentar. Kebanyakan memberikan doa-doa terbaik dan ikut merasa gembira. Ibu Murni tersenyum-senyum sendiri melihat komentar-komentar di berandanya.

“Kenapa senyum-senyum sendiri?” Tanya laki-laki di sampingnya tiba-tiba. Laki-laki yang tak lain suaminya sendiri.

Ia berpaling sesaat dan tersenyum lalu memperlihatkan postingannya di facebook.

“Ini banyak komentar yang mendoakan kita.  Alhamdulillah ya…pak, akhirnya kita bisa berhaji.”

Sekilas suaminya melirik ke ponsel ibu Murni, lalu mengangguk kecil. Entah mengangguk karena apa. Apakah karena postingan istrinya atau ucapan ibu Murni yang menyebutkan kalimat Alhamdulillah…

Tidak berselang lama setelah Ibu Murni dan suaminya dipastikan naik haji tahun ini, mereka segera menggelar upacara assalama (selamatan). Nyaris seluruh orang di kampungnya diundang, termasuk para tetangganya. Salah seorang tetangganya adalah ibu Saminah, seorang janda sederhana yang tinggal bersama dengan dua anaknya. Dua tahun yang lalu suami ibu Saminah meninggal dunia.

Di banding ibu Murni, Ibu Saminah memang dikenal warga sekitar hanyalah seorang ibu biasa. Ia tidak mencolok dalam hal apa pun. Di Majlis Ta’lim, meski pun ia rajin datang, ia hanyalah anggota biasa. Saat mengikuti pengajian dia lebih banyak diam, menyimak, sesekali tersenyum. Ibu Saminah juga tak pernah terdengar namanya disebut panitia Masjid sebagai penyumbang.

Hanya dua hal yang melekat dalam ingatan warga tentang ibu Saminah. Pertama, kebiasaannya memutar lagu kasidah dari radionya di sore hari. Lagu kasidah  dari ‘Nasyidah Ria’. Yang paling sering diputarnya adalah lagu “Panggilan Haji.” Lagu kasidah saat ini sebenarnya sudah tidak lazim lagi. Tetapi tidak demikian dengan ibu Saminah. Ia masih terus merawat kasidah dengan menyimak dendangnya dari radio tua miliknya.

Warga hafal, jika lewat di depan rumah ibu Saminah di sore hari, kemungkinan akan disongsong lagu kasidah. Dan kemungkinan kedua, lagu kasidahnya adalah “panggilan haji”.  

“Kalian  tahu kan lagu kasidah ‘Panggilan Haji’?”

“Kalau tidak tahu, teerlaalu…!” Itu loh… ,lagu yang salah satu bait syairnya berbunyi begini:

Panggilan haji

Telah tiba lagi

Menunaikan ibadah

Panggilan Baitullah

Tanah Suci Makkah

Ya Makkatul Mukarramah.

Apa boleh buat kalau kalian masih tetap tidak tahu, padahal saya sudah beritahu sepotong syairnya. Mungkin karena tidak ada di tik tok …ya…? Ah… sudahlah kita lanjutkan saja ceritanya.

Yang kedua yang diingat warga terhadap Ibu Saminah, adalah, dia rajin datang membantu jika ada warga yang punya hajatan. Tetapi dia tidak pernah muncul di ruang depan. Ibu Saminah sibuk berjibaku di dapur. Dialah yang sibuk mempersiapkan sajian untuk tamu. Berpeluh memasak, sibuk mewalakkan makanan dan lincah meracik penganan. Semua dilakukan dengan senyum kecilnya. Tak pernah tergurat raut kesal di parasnya.

Berbeda sekali dengan Ibu Murni. Jika ibu Saminah hanya anggota biasa di Majelis Ta’lim, maka ibu Murni adalah ketuanya. Manakala dalam pengajian Ibu Saminah hanya diam menyimak, terkantuk-katuk sehingga kadang dikira tidur oleh rekannya,  sesekali tersenyum dan nanti sibuk jika sudah mewalakkan penganan dan minuman, sebaliknya dengan Ibu Murni.  Selain tampil di barisan depan, Ibu Murni pun rajin bertanya.  Jika bertanya, gayanya anggun, pelan, sesekali menoleh ke kiri-kanan seakan menuntut perhatian hadirin.

Nama Ibu Murni juga paling sering disebutkan oleh panitia Masjid ketika membacakan daftar para donatur.  Tak pelak lagi Ibu Murni adalah tokoh perempuan di kampungnya. Satu-satunya yang kurang selama ini, karena ibu Murni belum dipanggil dengan gelar Bu Hajjah. Tetapi kini itu bukan soal lagi. Tak perlu menunggu sinetron ‘Ikatan Cinta’ kelar untuk segera bergelar hajjah. Bulan depan Ibu Murni sudah berangkat haji. Tinggal menunggu barang sejenak saja, Ibu Murni akan segera menggenapi gelarnya, “Bunda Hajjah Murni Andi Bintang.” Andi Bintang nama suaminya, seorang bangsawan terpandang. Sementara bunda adalah panggilan spesial untuk Ibu Murni di kalangan ibu-ibu. Konon panggilan bunda itu tidak untuk sembarang ibu-ibu. Hanya yang berkelas saja yang akan dipanggil dengan sebutan bunda.    

Acara syukuran naik haji Ibu Murni ramai dihadiri orang. Semuanya menyalami Ibu Murni dan suaminya dengan hangat. Mereka minta didoakan di depan Hajar Aswad, agar mereka juga segera dipanggil ke Baitullah. Tentu tidak lupa foto-foto.  Ponsel segera beraksi, lampu kamera silih berganti menyala. Semua berlagak jadi fotografer profesional. Jepret sana-sini. Ada yang memfoto barang-barang yang akan diboyong ke tanah suci, mengambil gambar tasnya, memfoto kerudungnya,  minta selfi dan segala macamnya. Media sosial akan segera banjir foto-foto upacara selamatan itu.

“Jangan lupa kirim gambar-gambarnya jika sudah ada di depan Ka’bah Bunda!” Celetuk Ibu Rini, salah satu teman dekat Ibu Murni.  Dia juga dikenal rajin memposting semua aktivitasnya di beranda media sosialnya.

“Insyaallah….,bahkan jika Allah mengizinkan saya akan posting video-video sejak turun dari pesawat…” Balas Ibu Murni dengan penuh keyakinan.

“Mantap…kalau begitu bunda” Timpal ibu-ibu yang lain.

Namun kemana Ibu Saminah? Bukankah selama ini dia yang paling sering menyimak kasidah ‘panggilan haji’. Sekarang tetangganya naik haji, tapi kenapa ia tidak muncul di seputar ibu-ibu yang sedang sibuk foto-foto?

Ibu Saminah ada. Dia tidak kemana-mana. Tetapi seperti biasa, bersama dengan beberapa perempuan lain, dia sedang berjibaku di dapur. Dia ikut memasak. Menjerang air. Begitu bersemangat menyiapkan makanan untuk para tamu dan dengan cergas menyajikannya satu demi satu. Parasnya selalu tersenyum. Setiap berpapasan dengan tamu, dia mengangguk ramah. Jelas terlihat dia begitu bahagia karena tetangganya, Ibu Murni, naik haji.  Tetapi seperti biasa dia tidak banyak bicara.

Satu bulan kemudian, Ibu Murni telah terbang ke Tanah Suci. Seperti janjinya ia segera memposting foto-foto dirinya selama berada di Tanah Kelahiran Nabi Muhammad SAW.  Sesekali mengirim video live streaming dari facebook. Fotonya di hadapan Ka’bah yang dipostingnya di beranda facebooknya dilike nyaris 500 orang. Kolom komentarnya banjir berbagai ucapan. Diam-diam muncul rasa bungah dalam dadanya.  Tetapi di saat yang sama nurani terdalamnya buncah. Ada setipis kulit bawang perasaan cemas, dirinya terjatuh pada sikap ria. “Tetapi bukankah kebaikan memang perlu disebar?” sergah batinnya cepat.

Suatu hari seperti biasa dia kembali memvideokan beberapa aktivitasnya di seputar Masjidil Haram. Termasuk ketika dia berada di hadapan Ka’bah. Dia mengambil video orang-orang di seputar Ka’bah. Termasuk seorang perempuan berkerudung hitam yang tengah salat di sekitar Hijir Ismail. Lebih dari sepemutaran tik tok Ibu Murni  mengambil gambar,  lalu videonya diposting di beranda facebooknya.

Setelah kembali ke penginapan, postingannya segera dilihatnya kembali. Banjir like dan beragam tanggapan muncul di kolom komentarnya. Ibu Murni tersenyum membacanya. Tiba-tiba saja matanya terhunjam pada satu komentar.  Itu komentar Ibu Ani, salah seorang tetangganya di kampung. Tetapi bukan karena Ibu Aninya yang membuat perhatiannya terbetot sedemikian rupa, tetapi komentarnya.

“Ibu Murni…! Bukankah perempuan di samping Hijir Ismail yang sedang salat itu adalah Ibu Saminah, tetangga kita?”

“Ibu Saminah?” Bagaimana bisa, dia tidak pernah kedengaran mau berangkat haji. Tidak pernah diketahui kapan mendaftar naik haji dan bukankah juga dia tidak pernah merayakan acara selamatan apa-apa. Di kampung semua orang yang naik haji pasti diupacarakan” Batin Ibu Murni. “Ah…ibu Ani salah lihat, ada-ada saja.” Tetapi komentar itu tetap saja membuatnya penasaran. Pelan-pelan ia memutar ulang videonya. Menyimak baik-baik tayangannya. Kadang putarannya dibuat slow, mirip adegan kungfu dalam film-film Mandarin klasik dulu.  Tayangan video akhirnya sampai pada perempuan di depan Ka’bah yang sedang salat. Pemutar film sekali lagi dibuatnya slow. Matanya dipentang lebar-lebar. Seluruh perhatiannya tercurah pada perempuan itu.

“Ya…Allah, benar… Ibu itu mirip sekali dengan ibu Saminah. Apa benar dia ibu Saminah?”

“Ah..tidak mungkin.” Bantahnya sendiri.

Segera Ibu Murni mencari suaminya. Memperlihatkan video tersebut. Suaminya mengangguk.

“Ya…memang mirip sekali dengan ibu Saminah. Kita akan cari lagi besok siapa tahu ketemu lagi dengan perempuan itu.”

Keesokan harinya Ibu Murni dan  suaminya kembali ke Masjidil Haram. Mereka masuk ke dalam berkeliling. Telah sejam mereka berjalan berputar-putar, perempuan yang dianggap ibu Saminah atau mirip dengannya, belum juga ditemukannya. Mereka lantas menuju ke sekitar Ka’bah. Sambil berkeliling dengan mengumandangkan puji-pujian pada Allah, mata keduanya juga mencari-cari sosok perempuan yang mirip ibu Saminah. Tetap tidak ada. Mereka keluar dari sekitar Ka’bah, tetapi masih tetap dalam lingkungan Masjidil Haram.

“Panggilan haji, telah tiba lagi, menunaikan ibadah, panggilan baitullah.”  Tiba-tiba terdengar bunyi ringtone ponsel dengan nada dari lagu ‘Panggilan Haji’. Ibu Murni dan suaminya tergemap. Nada itu sangat lekat dalam benak mereka. Nada dari lagu kasidah yang sering diputar oleh Ibu Saminah.

“Ibu Saminah.” Gumam keduanya bersamaan. Serentak dengan itu mereka menoleh ke arah suara ponsel itu. Seorang perempuan yang sangat mereka kenal, ibu Saminah, terlihat mematikan ponselnya. Sebuah ponsel biasa dari nokia yang hanya bisa digunakan menelepon dan mengirim sms. Jarak mereka dengan Ibu Saminah agak jauh. Keduanya bergegas menghampiri perempuan yang dianggapnya ibu Saminah. Tetapi Langkah mereka terhalang oleh rombongan jemaah haji dari Afrika yang melintas di depan mereka. Sejenak mereka harus berhenti. Sosok perempuan yang dianggap ibu Saminah itu juga jadi tidak terlihat. Dia terhalang oleh rombongan Jemaah Haji yang lewat itu.

Begitu rombongan terakhir lewat, Ibu Murni dan suaminya segera bergegas menuju tempat sosok perempuan yang mereka anggap ibu Saminah. Tetapi rupanya orang itu sudah bergeser dari tempatnya. Ia tidak kelihatan lagi. Dicari ke sana kemari, sama saja. Tidak ada. Sosoknya seakan-akan raib ditelan bumi.

Setelah beberapa saat lagi mencari tapi tak kunjung melihat batang hidung perempuan yang mereka sangka Ibu Saminah, sepasang suami istri itu akhirnya pulang ke penginapan. Suami ibu Murni segera masuk ke kamarnya. Ibu Murni sendiri mencari beberapa jemaah haji yang berasal dari kampung halamannya.  Tiga orang segera mengikuti Ibu Murni yang rupanya ingin menceritakan kejadian yang dialaminya di lobi penginapan.

Setelah mengatur nafas, Ibu Murni lantas menceritakan mulai dari video yang diposting di facebook, komentar seorang tetangga di kampung tentang sosok yang mirip Ibu Saminah di videonya, pencariannya, ringtone Hp yang diyakini itu adalah ringtone ponsel ibu Saminah, serta sosok perempuan yang dilihatnya mirip, bahkan menurutnya, memang tak lain ibu Saminah sendiri.

Ibu Saminah memang bukanlah seorang ibu yang menonjol di kampungnya, tetapi ketiga jemaah haji itu mengenalnya. Untuk beberapa jenak mereka tercenung. Sunyi menggantung di udara.

“Ibu Saminah kan tidak naik haji tahun ini, bagaimana mungkin itu ibu Saminah.”  Salah seorang di antara mereka memecah kesunyian. Ibu ini bernama Sari.

“Saya hampir yakin itu ibu Saminah” sambar ibu Murni cepat”, lalu katanya lagi, “wajahnya, sikapnya, bahkan ringtone ponselnya, semua menunjukkan perempuan itu ibu Saminah.”

“Jangan-jangan sumangenya (sukmanya).”  Ibu Minah, Jemaah Haji lainnya tiba-tiba memberi tanggapan lain. Tidak ada yang bersuara, tetapi mata mereka sama menatap ke ibu Minah yang berkomentar itu, seakan ingin meminta penjelasan lebih lanjut.

“Kata orang, siapa pun yang sangat menginginkan sesuatu biasanya sukmanya akan melanglang buana mencari keinginannya itu. Bukankah Ibu Saminah sebenarnya sangat ingin ke tanah suci. Konon dulu sepeninggal suaminya, ia telah ditinggalkan warisan untuk dipakai naik haji, tetapi entah mengapa sampai sekarang Ibu Saminah belum juga mendaftar haji.”  Jelas Ibu Minah.

“Saya pernah mendengar kabar angin, uang warisannya itu malah digunakan untuk membantu pembangunan sebuah panti asuhan.” Ibu Nur, jemaah haji yang dari tadi diam ikut berkomentar. “Tetapi itu hanya kabar angin, tidak jelas kebenarannya.”  Buru-buru ibu Nur melanjutkan.

“Ah…kalau dia bisa menyumbang panti asuhan, pasti juga sudah menyumbang di Masjid, tetapi selama ini kita tidak pernah dengar namanya disebut-sebut menyumbang di Masjid.” Sanggah Ibu Minah.

Ketiga jemaah haji lainnya saling berpandangan.  Lalu Ibu Sari berkata…, “Belum ada yang pasti,  saya belum yakin itu Ibu Saminah, tidak juga yakin itu sukmanya”

“Apa yang membuat ibu belum yakin?” Terdengar satu suara bernada tanya. Tetapi siapa yang bicara. Keempat ibu itu saling berpandangan, lalu bagai dikomando, serempak menoleh. Di sudut lobi, terlihat seorang perempuan yang baru saja melontarkan kalimat itu. Sosoknya anggun, berkulit putih dan lagaknya memesona. Tanpa sadar keempat perempuan  ini mendekat ke arah perempuan yang tiba-tiba saja menyela pembicaraan mereka.

“Maaf saya tiba-tiba ikut nimbrung, tetapi cerita ibu…,” ia menggantung kalimatnya.  

“Saya Ibu Murni….eh…bunda Murni….saya bunda Murni.” Timpal Ibu Murni yang mengerti perempuan itu ingin mengetahui namanya.

“Ya…cerita ibu…eh…bunda Murni ini bukan hal yang mustahil terjadi.” Lanjut ibu yang tiba-tiba ikut nimbrung ini melanjutkan kalimatnya.

“Maksud ibu, yang saya lihat memang ibu Saminah, atau hanya sukmanya?”

“Mungkin saja memang itu ibu Saminah. Kalaupun ibu-ibu semua merasa bahwa ibu Saminah tidak berhaji karena tidak pernah ketahuan mendaftar, tidak ada acara selamatan atau pun karena tidak pernah mengabarkan soal rencananya naik haji, itu tidak berarti ia memang tidak naik haji.  Mungkin saja dia diam-diam naik haji. Tidak semua orang merasa perlu mengabarkan dirinya naik haji. Mungkin dia merasa haji baginya hanya untuk Allah, bukan untuk cari ketenaran.” Kata ibu itu.  Keempat ibu jemaah haji  itu tiba-tiba merasa jengah. Entah mengapa kalimat ibu itu terasa menyindir mereka. 

“ Kalaupun fisiknya tidak naik haji, tapi sukma dan batinnya, sejatinya telah naik haji.” Lanjutnya lagi.

Mendengar itu empat ibu lainnya saling berpandangan, mereka terlihat bingung. Wajah mereka terlihat karut, mirip ibu-ibu penonton sinetron yang mulai bingung dengan jalan cerita telenovelanya.

“Pernah dengar kisah seorang penjahit sepatu, yang tidak naik haji, tetapi ternyata telah dianggap naik haji oleh Allah, bahkan hanya hajinya satu-satunya yang diterima oleh Sang Pencipta?” Tanya ibu itu.

Keempat ibu itu serentak menggelengkan kepalanya.

“Itu kisah seorang penjahit sepatu yang begitu berharap bisa naik ke tanah suci, mengunjungi Ka’bah dan salat di bawah naungan bayang-bayang Rumah Allah itu.  Impian itu ditelannya sendiri, diresapi diam-diam tanpa pernah ia menceritakan pada orang lain. Hasil dari menjahit sepatunya diam-diam ditabungnya dengan tekun, hingga akhirnya mencukupi bekal untuk ke tanah suci. Tetapi ketika bekalnya sudah cukup, seorang tetangganya membutuhkan pertolongan. Tetangganya itu membutuhkan biaya untuk pengobatan. Ia menyampaikan itu pada si Penjahit Sepatu. Sang tetangga sendiri tidak pernah tahu bahwa si penjahit sepatu punya simpanan dan sedang bercita-cita naik haji. Tanpa sungkan-sungkan si penjahit sepatu menyerahkan  seluruh ongkos naik hajinya yang telah ditabung untuk menolong tetangganya itu. Dan ia tak sedikit pun menceritakan bahwa itu ongkos untuk naik hajinya.”

Ibu itu berhenti sejenak. Ia menatap sekilas ke empat ibu lainnya yang terlihat terkesima mendengar ceritanya.

“Meskipun batal berangkat haji, si tukang jahit sepatu tidak masygul. Ia sepenuh hati membantu tetangganya, ia ikhlas menerima ketentuan Tuhan bahwa tahun itu ia belum mendapat panggilan ke tanah suci. Dan tahukah apa yang terjadi ibu-ibu….?”

Sekali lagi ibu yang bercerita ini menjeda ceritanya. Ibu ini rupanya pintar bercerita. Dia mampu menuntut rasa penasaran dari pendengarnya. Setelah diam  sejurus, Ibu itu lalu berkata,  “Seorang alim atau mungkin juga dia wali, yang naik ke tanah suci pada tahun itu pula, bermimpi tiga malam berturut-turut. Ia didatangi malaikat dan mengabarkan kepadanya, tahun itu hanya hajinya si Penjahit Sepatu itu yang diterima oleh Tuhan.”

Keempat ibu yang mendengar cerita itu bagai dicengkau oleh satu hal yang luar biasa. Tak ada yang bersuara.  Bahkan ketika ibu yang bercerita itu sudah berhenti bercerita, keempat ibu jemaah haji itu masih bergeming di tempatnya masing-masing.

“Masih ada lagi satu kisah, yang ini terjadi pada seorang perempuan.” Ibu itu tiba-tiba kembali berkata.   Empat ibu jemaah haji yang sejak tadi terdiam, sama mengangkat mukanya. Wajah-wajah mereka menyiratkan rasa ingin tahu. Mereka segera ingin menyimak kisah itu.

“Suatu waktu seorang ulama berangkat berhaji ke Makkah. Tetapi sesampai di Makkah, dia tidak melihat Ka’bah. Tiba-tiba dia mendengar bisikan,  ‘Ka’bah saat itu sedang menyambangi seorang perempuan’. Mendengar bisikan itu sang Wali segera bergegas meninggalkan Makkah. Sang wali ingin segera bertandang ke tempat perempuan yang sedang dikunjungi Ka’bah tersebut. Sesampai di sana dilihatnya Ka’bah yang justru bertawaf mengelilingi sang perempuan. Sang ulama yang penasaran bertanya, ‘mengapa sampai Ka’bah yang datang menyambangimu, sementara banyak orang yang bersusah payah justru ingin mengunjungi Ka’bah.’ Kata sang perempuan, ‘karena di dalam hatiku hanya satu tujuanku Sang Pemilik Ka’bah, tidak yang lain, tidak juga Ka’bahnya. 

Mendengar cerita yang terakhir ini, keempat perempuan itu tidak hanya tercekam, dan kerongkongan mereka terasa kering seperti tidak minum beberapa hari, tetapi juga salah tingkah. Paras mereka pucat pasi. Masing-masing menakar dirinya sendiri. Mereka ke Tanah Suci untuk apa? Betulkah untuk Allah semata? Ibu Murni yang paling terlihat gelisah. Semakin ia bertanya pada batinnya, semakin dadanya buncah.  Tanpa ia sadari air hangat merembes dari kedua matanya. Ia menangis…Ketika Ibu Murni menatap ibu-ibu lainnya, dilihatnya ketiga ibu-ibu itu juga tercenung. Mata sama berembun. Dada sama buncah. Lalu keempatnya serentak menunduk. Hening. Hanya suara istigfar  lamat-lamat mengalun dari mulut masing-masing. Hati mereka seakan berbisik, Ya…Allah kami telah menzalimi diri sendiri, tanpa pengampunan-Mu, kami hanya akan semakin jauh tersesat dari jalan-Mu. 

Keempat orang itu tidak sadar kalau ibu yang bercerita itu sudah tidak ada lagi di tempat duduknya. Suasana semakin senyap. Dan akhirnya keheningan itu menyadarkan mereka. Tak ada lagi ibu yang bercerita itu. Kemana perginya? Keempat ibu jemaah haji itu segera mencarinya, menelusuri lorong hotel, menelisik tiap rombongan, tapi tetap saja ibu pencerita tak ditemukan. Bertanya ke kamar lain dengan menjelaskan ciri-cirinya, juga tak ada yang mengenalinya. Seperti ibu Saminah, ibu yang bercerita itu pun seakan raib ditelan bumi.

***

Ditulis dari Datuk ri Paggentungan di ujung senja.
Penulis: Syamsurijal Ad’han, Ketua LTN PWNU Sulawesi Selatan, Peneliti Balitbang Agama Makassar.
Sumber: pwnusulsel.or.id

Redaksihttps://sivitas.id
Sivitas.id adalah portal berita online berbasis kampus yang didedikasikan sebagai ruang diskursif warga kampus. Anda bisa mengirimkan tulisan anda ke email redaksi di redaksi@sivitas.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img

Most Popular

Recent Comments