27 C
Makassar
Tuesday, September 21, 2021
HomeKolomEsaiBumi Kebermaknaan (Idul Fitri)

Bumi Kebermaknaan (Idul Fitri)

JIKA tuan tandang ke Makassar
Tengoklah sejenak Pantai Losari
Jika ada bentang yang kasar
Janganlah tersedak di dalam diri.

Mohon maaf, alunan pantun yang mungkin tak pas, maklum tidak dibesarkan dengan budaya pantun. Saya hanya ikut belajar pada salah satu arus berpamitan dalam hasanah budaya masyarakat kita yaitu dengan pantun.

Tersaji 30 seri “Bumi Kebermaknaan”  dan menjadi bagian dari seri rutinitas 5 tahun terakhir ini  setiap ramadan menyapa. Saya ingin menutup dengan persembahan kasih yang tak bertepi kepada seluruh pembaca, baik yang menjadi pembaca aktif maupun yang pasif. Terima kasih kepada anda semua yang membuat saya selalu ingin bereksplorasi dengan segala keterbatasan.

Terkadang ada coretan yang berulang, yang tidak sinkron, yang dangkal, yang ngarang dan juga berputar-putar tak mengenal tuntas. Terkadang ada kerepotan membungkus ide utama dan tidak berpihak pada tema sentral tulisan. Terkadang ada kesan sebagai tulisan yang  “kejar tayang”.

Tapi saya tidak pernah menyerah. Saya sudah cukup belajar dan menyerap  seluruh keluhuran budi para pembaca dalam 5 tahun ini. Anda semua terlalu baik pada saya. Ada yang begitu cepat memberi emo jempol meskipun saya menangkap kesan belum sempat membacanya. Ada yang bercanda kalau nomor tulisan saya menjadi pengingat jumlah puasa. Ada juga seloroh kalau tulisan saya muncul, artinya imsak sudah dekat. Semua menjadi selera humor yang renyah. 

Ada yang mengingatkan bahwa hal yang saya tulis sudah pernah ditulis sebelumnya. Ada yang membandingkan bahwa yang saya tulis sudah pernah saya ceramahkan. Saya  mengambil respon ini sebagai penyemangat yang tiada terkira karena itu artinya ada kepedulian nyata pada coretan saya.

Sejujurnya, ada kenyamanan tingkat tinggi yang saya rasakan dalam menyajikan coretan. Ada istilah khasnya dalam kosa kata biologi. Anda pasti tahu. Kenyamanan inilah yang membuat saya tidak bisa berhenti mencoret dengan keterbatasan apapun yang saya miliki.

Anda mau tahu? Beberapa sahabat yang mengingatkan kalau saya belum menshare tulisan saya ke mereka. Sebuah penghargaan yang saya selalu simpan di dalam museum rekord hati saya. Beberapa juga sengaja menghabiskan waktu untuk mengomentari coretan biasa saya. Sungguh kepedulian yang tak tertandingi. Termasuk mereka yang meminta saya terus menulis meskipun ramadan berlalu.

Sebuah permintaan mengharukan meskipun tanpa sadar mengingatkan  datangnya musim panceklik ide. Dan dari semua itu, saya bersimpuh pada teman-teman terbaik yang bersedia mencarikan topik dan cerita inspiratif yang layak jadi cerminan.

Akhirnya, bukanlah tulisan ini yang menyajikan bahwa bumi yang kita injak, kehidupan yang kita arungi ini penuh kebermaknaan. Andalah yang secara jelas menyajikannya. Anda semua adalah  kertas putih yang selalu siap untuk menuliskan diri dengan segala hikmah dan kebermaknaan hidup. Itulah, anda semua layak merayakan idul fitri hari ini, walmaqbuulin kullu ‘ammin wa antum bikhaer.

*Hamdan Juhannis

Redaksihttps://sivitas.id
Sivitas.id adalah portal berita online berbasis kampus yang didedikasikan sebagai ruang diskursif warga kampus. Anda bisa mengirimkan tulisan anda ke email redaksi di redaksi@sivitas.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img

Most Popular

Recent Comments