27 C
Makassar
Tuesday, September 21, 2021
HomeKolomEsaiBumi Kebermaknaan (30)

Bumi Kebermaknaan (30)

SAMPAILAH coretan ini pada hari terakhir Ramadan dengan kembali meneguhkan bahwa siapa saja dalam hidup ini bisa menjadi inspirasi. Saya ingin bercerita tentang sosok yang mungkin menarik jadi ibrah. Namanya: Saharuddin. Saya panggil Pak Sahar. Dia tetangga saya. Ikut sama saya sebagai sopir sudah sekitar 10 tahun.

Awalnya dia kerja sebagai tukang becak. Setelah itu membawa mobil pete’-pete’ (nama mobil angkot di Makassar). Setelah beberapa lama, dia membawa taksi. Saat menjadi sopir taksilah saya berkenalan dengannya. Kebetulan kami pindah di tempat yang berdekatan dengan rumahnya. Setiap saya bepergian  dengan pesawat, saya pasti memesan taksinya untuk di antar ke bandara.

Karena sudah akrab, saya bertanya banyak hal tentang pekerjaan sebagai sopir taksi. Tipikal Pak Sahar adalah baru berbicara saat ditanya. Saya banyak tahu tentang dunia taksi dari dia. Termasuk tipe  orang yang sering dia bawa dan tempat yang dituju para pelanggannya.

Suatu waktu saya tanya penghasilannya, rupanya penghasilan maksimalnya saya angggap masih sangat minimal. Bahkan dia pernah perlihatkan slip gajinya. Kebetulan juga saat itu kampus memiliki program pemberdayaan masyarakat atas bantuan pemerintah Canada. Saya lalu menawarkan dia untuk ikut sama saya sebagai sopir, dan dari saat itulah bekerja dengan saya sampai sekarang. Saya belum pernah tanya apakah bisa bertahan  karena suka dengan kepribadian saya atau suka dengan pekerjaannya atau karena terpaksa. Saya tidak mau tanya karena kemungkinan besar jawabannya bukan pada pilihan pertama.

Pak Sahar sosok sopir yang patuh, bahkan sangat patuh. Kalau saya mengeluh tentang sesuatu, dia memilih diam. Tidak pernah juga memperlihatkan keengganan melakukan apa yang diminta. Namun yang menarik, karena pak sahar tumbuh di jalan raya, dia memiliki naluri bertarung di jalan, terutama di kemacetan.

Beberapa kali saya dibikin kaget, karena pak Sahar ternyata bisa memproduksi bahasa yang sering dipakai di jalan raya. Pernah hampir bersenggolan dengan mobil mewah di jalan,  karena merasa benar, pak Sahar “menyemprot” sopir mobil itu. Beberapa kali saya melihat dia berdebat dengan sopir angkot dan tidak mau kalah. Meskipun saya tidak paham semua isi pertengkarannya, karena bahasa ibu kami berbeda.

Itulah sedikit tentang Pak Sahar yang hampir semua waktu saya di jalan selama 10 tahun terakhir ini bersama dengan dirinya. Dan selama itu saya sering menahan rasa malu. Pak Sahar tidak pernah terlambat sekalipun saat harus membawa saya di subuh hari. Sambil menunggu saya, pak Sahar berusaha untuk selalu shalat fardhu berjamaah. Masa tunggu yang tidak jelas selalu digunakan untuk mengaji. Pak Sahar adalah contoh orang yang memaksimalkan pahala beribadah dengan keterbatasan dan kerumitan pengaturan waktu yang dimilikinya.

Pak Sahar adalah contoh manusia berkaliber karena meskipun waktunya tergantung dari atasannya, tetapi merajut pahala ibadah tetap tergantung pada dirinya. Pak sahar adalah manusia merdeka secara prinsip di antara sedikit kebebasan menentukan waktu kerjanya.

Satu lagi, dia baru istirahat  berpuasa senin-kamis saat memasuki bulan puasa ramadan. Jangan tanya bagaimana dengan saya, karena itu membuat saya tambah malu. Dan ternyata kita bisa selalu bercermin pada orang-orang di sekitar yang kelihatannya “biasa” tapi memiliki keunggulan jati diri. Bagaimana dengan pengalaman berkaca dari orang-orang di sekitar anda?

*Hamdan Juhannis

Redaksihttps://sivitas.id
Sivitas.id adalah portal berita online berbasis kampus yang didedikasikan sebagai ruang diskursif warga kampus. Anda bisa mengirimkan tulisan anda ke email redaksi di redaksi@sivitas.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img

Most Popular

Recent Comments