24 C
Makassar
Tuesday, June 22, 2021
HomeKolomEsaiBumi Kebermaknaan (27)

Bumi Kebermaknaan (27)

APA yang paling khas, unik, atau berbeda yang pernah terjadi dalam kehidupan anda yang kira-kira tidak terjadi pada kehidupan orang lain? Pertanyaan ini sekadar untuk mengelaborasi aksioma hidup karena setiap orang yang dilahirkan pasti memiliki perbedaan dengan lainnya. Itulah bukti keagungan Sang Maha Pencipta, Maha Pembeda.

Namun saya lebih khusus kepada pertanyaan tentang perbedaan atau kekhasan pengalaman hidup yang anda jalani. Kekhasan kehidupan anda yang mungkin bisa menjadi pelajaran bagi orang yang menyimaknya. Bukankah setiap orang adalah inspirasi?

Pernah mendengar cerita  “tempo doeloe”, banyak orang tidak memiliki data tentang kelahiran mereka karena sistim pendataan yang belum berkembang? Ketika mereka ditanya data kelahirannya, mereka mengambil tolak ukur pada kejadian yang terjadi saat itu. Atau mereka mengambil penanda dari sesuatu yang  bertahan lama di sekitar mereka. “Kapan anda lahir?” “Saat Gunung Krakatau meletus.” “Saat adanya pemilihan umum.” “Waktu itu ada banjir besar di kampung.” “Kala itu ada letusan besar tidak jelas dari mana.” Dari kejadian historis inilah yang menjadi dasar penentuan umur mereka. Mungkin tidak pas tapi paling tidak, usia mereka sudah bisa diprediksi.

Ada juga cara lain yang orangtua gunakan untuk menentukan usia, melakukan perbandingan di antara kerabat yang ada, atau teman seperjuangan. Misalnya, “waktu saya melahirkan kamu, si A sudah mulai berdiri.” Artinya ada selisih sekitar satu tahun di antara dua orang ini. Tentu yang sedikit masalah adalah bagaimana kalau si A sendiri juga tidak yakin dengan tanggal kelahirannya.

Narasi di atas adalah pintu masuk  untuk menjelaskan keunikan hidup saya yang mungkin sudah tidak terjadi pada generasi semasa saya. Saya tidak tahu persis berapa umur saya. Ayah saya meninggal waktu saya masih kecil. Ibu saya tidak pernah mengakses pendidikan formal berupa sekolah. Tidak ada pendataan tentang tanggal kelahiran.

Bagaimana saya bisa mendapatkan tahun kelahiran saya? Persis dengan cerita di atas. Nenek saya waktu masih hidup pernah mengatakan, saya lahir waktu pohon kelapa di depan tempat tinggalnya masih setinggi orang dewasa. Tentu ini menyulitkan untuk menghitungnya, karena harus melibatkan ahli biologi, berapa pertambahan tinggi pohon kelapa dalam setahun. Karena waktu nenek saya mengatakan itu, pohon kelapa yang ditunjuknya itu sudah sangat tinggi. Yang memudahkan adalah petunjuk ibu saya, bahwa saya lahir tidak terlalu lama setelah ada Pemilu. Pemilu masa saya lahir adanya pada tahun 1971. Usia saya sudah bisa ditakar, meskipun kata “tidak terlalu lama” belum menyajikan kepastian.

Ibu saya juga selalu mengulangi bahwa saya lahir kurang lebih setahun setelah kelahiran teman kecil saya yang juga keluarga saya, namanya: Mahyuddin. Mahyuddin inilah yang menjadi teman sekolah  yang membuat saya mendapatkan tahun kelahiran yang tertulis di ijazah. Saya masih ingat, saya mencoba menarik mundur satu tahun dari tahun yang ditulis Mahyuddin, tapi gagal. Karena kepala sekolah menganggap tahun yang saya tulis, menunjuk usia yang terlalu muda untuk angkatan sekolah saya. Akhirnya saya mengikuti tahun kelahiran Mahyuddin tanpa tanggal dan bulan kelahiran. Ceritanya unik kan?

Bagaimana dengan anda? Adakah keunikan kehidupan anda yang bisa dibagi, yang menghibur dan siapa tahu bermakna bagi kita semua? Bisa juga berupa peristiwa ekstrim yang anda alami yang bisa dianggap sebagai “your second life”.

*Hamdan Juhannis

Redaksihttps://sivitas.id
Sivitas.id adalah portal berita online berbasis kampus yang didedikasikan sebagai ruang diskursif warga kampus. Anda bisa mengirimkan tulisan anda ke email redaksi di redaksi@sivitas.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img

Most Popular

Recent Comments