24 C
Makassar
Wednesday, May 12, 2021
HomeKolomEsaiBumi Kebermaknaan (19)

Bumi Kebermaknaan (19)

SEORANG anak perempuan kecil menemui ibunya yang sedang sibuk bersih-bersih dengan memegang dua apel, masing-masing di tangan kanan dan kiri. Saat ibunya mencoba meminta salah satu apel yang dipegang anaknya, tiba-tiba anak itu menggigit kedua apel yang ada di tangan kanan dan kirinya. Ibunya menampilkan ekspresi sangat kecewa dengan prilaku anaknya. Tanpa menghiraukan ekspresi kekecewaan ibunya, anak kecilnya langsung menyodorkan salah satu apel yang sudah digigitnya dengan berkata: “Mama, ini yang lebih manis.”

Satu kalimat pendek untuk memulai menjelaskan ilustrasi di atas: Jangan langsung menyimpulkan  dari apa yang anda lihat! Jangan menghakimi dengan prilaku yang ditampilkan orang di depan anda. Banyak orang yang mengambil pemahaman sepihak dari penglihatan sepintas mereka. Banyak orang yang mengambil keputusan untuk menentukan sikap tanpa tabayyun.

Banyak  yang hanya ingin memahami realitas hidup hanya dari potongan-potongan prilaku orang lain. Ketika bertemu dengan kenalan lama lantas tidak menyapa, diputuskanlah bahwa orang itu sombong. Padahal orang itu memang tidak mengenal dirinya karena memakai masker. Atau mungkin orang itu memiliki keterbatasan kemampuan mengingat teman lama, atau kita sebut penyakit “lupa-lupa ingat”. Ketika dimintatolongi untuk meminjamkan uang,  tapi tidak diberikan, dihakiminya orang itu sebagai pribadi yang kikir. Padahal bisa saja orang itu menyiapkan rencana lebih baik dari sekadar memberi, memanggil bekerja pada usahanya supaya tidak lagi memiliki mental suka meminjam.

Sebaliknya, ada orang yang terlalu cepat memuji hanya karena potongan penampilan kebaikan dari orang tertentu. Disebarkannya bahwa orang itu sangat dermawan. Dia tidak membacanya secara utuh, dalam konteks apa kedermawanan itu berlangsung, apakah tidak terkait dengan kepentingan sesaat orang itu.

Itulah, dibutuhkan pemahaman secara utuh sebuah setting prilaku untuk sampai pada penilain akhir. Termasuk, menilai kemesraan pasangan yang bergandengan tangan saat berjalan di mal. Suaminya begitu setia memegang tangan isterinya. Suami romantis kan? Belum tentu! Bisa saja itu cara suaminya untuk mengontrol pergerakan isteri supaya tidak terlalu banyak singgah di berbagai counter perbelanjaan.

*Hamdan Juhannis

Avatar
Redaksihttps://sivitas.id
Sivitas.id adalah portal berita online berbasis kampus yang didedikasikan sebagai ruang diskursif warga kampus. Anda bisa mengirimkan tulisan anda ke email redaksi di redaksi@sivitas.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img

Most Popular

Recent Comments