27 C
Makassar
Tuesday, September 21, 2021
HomeKolomPenjara di Dalam "Istana"

Penjara di Dalam “Istana”

MASYARAKAT modern tampak bahagia secara lahiriah, tetapi menderita secara batin. Hal ini disebabkan proyek modernisme yang menekankan individualitas dan rasionalitas empiris telah memacu perkembangan masyarakat yang pada akhirnya beralih kepada individualisme esktrem yang cenderung mengabaikan solidaritas kemanusiaan.

Manusia mulai terjebak dengan kehidupan glamouritas, materialisme, hedonisme, kompetisi tidak sehat, keserakahan, keangkuhan, sadisme, kekerasan dan sebagainya. Pola hidup semacam ini amat menjunjung tinggi nilai material dan menafikan aspek spiritual. Akibatnya terjadi desakralisasi kehidupan. Realitas hidup adalah “kini dan “ kedisinian”.

Tata nilai agama mulai lentur dan luntur, bahkan ada tendensi agama hanya dianggap sebagai suatu kepentingan “kifayah” dan bukan kebutuhan pribadi. Dalam kaitan ini, tampaknya agama hanya dianggap sebagai sebuah identitas simbolik, bukan sebagai suatu nilai yang tercermin dalam perilaku. Konsekuensinya terjadilah pembusukan nilai agama akibat agama melekat pada individu yang mengartikulasikan nilainya sebatas simbol/topeng.

Gejala semacam ini menyebabkan terjadinya distorsi pada nilai-nilai kemanusiaan. Agama dan Tuhan seakan diabaikan, bahkan ada kecenderungan manusia modern memerankan dirinya sebagai “tuhan” di atas bumi dan membuang dimensi transcendental dari kehidupannya.

Di sisi lain, dominasi Iptek yang dipaketkan dengan ideologi kapitalisme menyebabkan manusia kehilangan kebebasan dan makna kemanusiannya yang hakiki di tengah kehidupan megamekanis. Peran-peran manusia telah digantikan oleh dominasi mesin yang bersifat atomistis, bahkan pemberian nilai-nilai edukatif orang tua di rumah tangga telah diambil alih oleh peran media elektronik.

Akibatnya, tujuan hidup mulai kabur, ekosistem dikacaukan, masyarakat dininabobokan oleh era posmodernisme, lembaga perkawinan tidak dianggap lagi sakral, hampir setiap hari masyarakat disuguhi media TV dengan kasus perceraian, rumah tangga berantakan, adat dan tradisi mulai dilupakan dan akhirnya iman pun menguap dari lubuk hati manusia. Mereka teralineasi dari dirinya sendiri, lingkungan dan dari Tuhannya.

Fenomena di atas terjadi sebagai efek dari paradigma kehidupan masyarakat. Dunia materi dan non materi dipahami secara terpisah, sehingga masyarakat modern merasa semakin otonom, dalam arti tidak lagi memerlukan intervensi Tuhan dalam menyelesaikan persoalan kehidupan sehingga mereka merasa yakin untuk mengucapkan ”selamat tinggal” kepada Tuhan.

Bersamaan dengan ditempatkannya manusia sebagai pusat dunia dan ukuran keunggulan logika dan rasionalitas, maka agama yang selama ini sering mengajarkan dogmatisme dipandang sebagai sisa-sisa dari primitive culture (Kamaruddin Hidayat,2001;98). Akibatnya, lambat laun manusia terkungkung dalam lingkaran setan dengan membuat penjara-penjara di dalam ”istana” (baca-hati) sebagai efek dari hilangnya Tuhan di dalam dirinya.

Di sisi lain, agama formal kurang memberi tempat yang sejuk bagi kegersangan masyarakat. Agama formal sepertinya tidak cukup akomodatif menampung aspirasi, keresahan, kegelisahan jiwa, frustasi, dan penyakit modern seperti ; perceraian, broken home, kekerasan seksual dan berbagai bentuk sadisme yang lain. Agama seringkali dihiasi oleh doktrin dan dogma seperti haram, neraka, dosa, kafir dan lain-lain.

Menurut Kamaruddin Hidayat wacana keagamaan yang kering dan legalisitik seperti ini kurang memberikan ruang imajinasi dan eskplorasi rasa keagamaan, sehingga ruang agama terasa sempit dan penuh ancaman neraka yang menakutkan.

Menurut Kamaruddin Hidayat (2008) orang-orang Barat jika dihadapkan pada pilihan antara agama dan spiritualitas, mereka menjawab: ”Kami akan memilih mencari kedamaian dalam spiritualitas. Agama dalam pandangan kami penuh mitos, aturan rumit dan selalu mengajak konflik. Pemeluk agama cenderung tidak toleran.” Jika ditanyakan kepada mereka kenapa tidak mendalami Islam, padahal Islam agama yang menjunjung tinggi kedamaian? Mereka menjawab: ”Maaf, yang kami kenal tentang umat Islam adalah umat yang tidak mencerminkan hidup damai. Secara fisik mereka senang bentrok dan secara intelektual sering mengesankaan intoleran”.

Lebih lanjut Kamaruddin menyatakan bahwa jiwa manusia yang bersifat ruhani itu bagaikan burung rajawali yang terpenjara di dalam sangkar. Ruh manusia berasal dari Tuhan dengan misi agung untuk mengendalikan seluruh instrumen tubuh, tetapi misi keruhanian itu ada kalanya gagal ketika seseorang lebih tertarik pada perintah dan tawaran hawa nafsu yang menyajikan kesenangan dan kenikmatan sesaat.

Jika ditarik ke ranah yang lebih luas, maka orang yang menciptakan penjara-penjara di dalam ”istana” Tuhan, yaitu dengan menempatkan atau menuhankan materi di dalam hatinya, maka kehidupan di dalam rumah tangga pun akan mengalami goncangan. Rumah tangga yang mestinya menjadi surga atau istananya itu (baiti jannati) tidak secara langsung telah menjadi penjara bagi kehidupan keluarganya.

Semoga kita bisa hidup dalam “istana” Allah baik di dunia maupun di akhirat.

*Barsihannor, Dosen Pemikiran Islam UIN Alauddin Makassar

Redaksihttps://sivitas.id
Sivitas.id adalah portal berita online berbasis kampus yang didedikasikan sebagai ruang diskursif warga kampus. Anda bisa mengirimkan tulisan anda ke email redaksi di redaksi@sivitas.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img

Most Popular

Recent Comments