24 C
Makassar
Wednesday, May 12, 2021
HomeKabar KampusKemahasiswaanHIMABIP UIN Alauddin Gelar Dialog Publik Tentang Radikalisme

HIMABIP UIN Alauddin Gelar Dialog Publik Tentang Radikalisme

Sivitas.ID, Gowa – Radikalisme Musuh Bersama menjadi tema Dialog Publik Badan Pengurus  Harian Himpunan Mahasiswa Bidikmisi dan KIP-Kuliah (HIMABIP) UIN Alauddin Makassar di Warkop Mau.co, Jl Tun Abdul Razak, Gowa, Minggu (04/04/2021).

Ketua umum HIMABIP UIN Alauddin Muhammad Fuad Fikri menyampaikan, dialog tersebut bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat umum bahwa tindakan radikal yang berujung terorisme seperti yang baru saja menimpa Gereja Katedral Makassar perlu diwaspadai.

Fuad berharap, semoga semua yang hadir bisa lebih memahami pentingnya mempelajari radikalisme dari berbagai perspektif sehingga kbisa menjadi lebih toleran terhadap suku, agama, ras, dan budaya.

“Dan juga semoga tidak terjadi lagi peristiwa bom bunuh diri yang akan merugikan berbagai pihak” ujarnya.

Dosen Komunikasi Lintas Agama dan Budaya UIN Alauddin Jalaluddin B. MA yang didaulat menjadi pembiara pertama berpendapat, penggunaan kata radikal itu kurang tepat, karena menurutnya, radikal itu mengandung arti kata yang positif.

Radikal diambil dari kata radiks, artinya pemikiran itu harus mengakar dan mendalam pada sebuah persoalan.

“Radikal sebenarnya mengandung arti yang positif karena mengacu kepada akar pemikiran filsafat yaitu berpikir mendalam, sehingga dalam melihat sesuatu tidak hanya hitam atau putih saja” tandasnya.

Jalaluddin melanjutkan, pada dasarnya kita bebas dalam menyampaikan pendapat, bebas melakukan segala hal selama itu tidak merugikan orang lain, sedangkan perbuatan teror apalagi bunuh diri jelas sekali merugikan banyak orang.

Mereka yang melakukan teror, sambungnya lagi, adalah orang-orang yang menerima doktrin sedemikian rupa dalam pola komunikasi yang intensif, karena sebuah doktrin dapat mendorong orang untuk melakukan tindakan-tindakan tertentu.

“Karena itu, membangun hubungan dan terutama komunikasi yang humanis antar umat adalah cara mencegah perilaku terorisme tersebut” imbuhnya.

Sementara itu, Pengurus Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (LAKPESDAM) PWNU Sulsel M Fadlan L Nasurung menjelaskan, para ekstremis memiliki pemahaman keagamaan yang literal, sehingga memahami teks-teks keagamaan secara dangkal.

Ia menyebut, terorisme yang membawa panji agama berakar pada ektremisme kekerasan, sebuah ideologi yang menjadikan kekerasan, teror hingga bom bunuh diri sebagai jalan pintas mencapai cita-cita surga.

“Para teroris-jihadis, cita-cita tertingginya memang adalah mati syahid” tuturnya

Namun, sambung Fadlan, jihad dan mati syahid yang mereka pahami keliru dan salah kaprah, jihad dan syahid sejatinya didedikasikan untuk kehidupan sebab agama hadir untuk kemaslahatan hidup manusia, bukan justru untuk membinasakannya.

“Agama seharusnya menjadi sumber spirit untuk hidup, bukan malah menjadi motivasi untuk cepat mati” pungkasnya.

Fadlan memaparkan bahwa dalam skala global, kasus-kasus terorisme berkelindan dengan faktor-faktor sosial, politik dan ekonomi yang kompleks. Peristiwa Nine Eleven (2001) yang menghancurkan World Trade Center (WTC) di Washington DC Amerika serikat, menjadi awal mula kemunculan terorisme global, dilanjutkan dengan menguatnya sentimen Barat dan Islam.

Setelah itu, ekspansi militer Amerika Serikat ke sejumlah Negara muslim di kawasan Timur Tengah dengan motif perburuan teroris dan senjata pemusnah massal, memperparah keadaan.

Namun ditingkat lokal, lanjut Fadlan, kasus-kasus kekerasan dan terorisme atas nama agama memang dimotivasi oleh faktor ideologi.

“Cara pandang dan sikap intoleran adalah sumbu kekerasan atas nama agama di Indonesia” tegasnya.

Selanjutnya Ketua bidang IPMawati PW IPM Sulsel Yuliana F.S S Pd berpandangan bahwa terorisme merupakan tindakan yang tidak memanusiakan manusia, dia mengajak untuk senantiasa membentengi diri dengan agama dan ilmu agar terhindar dari paham radikal, utamanya bagi kaum milenial.

“Mari kita membentengi diri dengan agama dan ilmu, utamanya bagi kita kaum milenial agar tidak terjerumus dalam tindakan ekstrem dan radikal” tandasnya.

Diskusi tersebut dihadiri oleh puluhan anggota HIMABIP se Kota Makassar serta mahasiswa dari berbagai kampus dan organisasi.

Avatar
Redaksihttps://sivitas.id
Sivitas.id adalah portal berita online berbasis kampus yang didedikasikan sebagai ruang diskursif warga kampus. Anda bisa mengirimkan tulisan anda ke email redaksi di redaksi@sivitas.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img

Most Popular

Recent Comments