24 C
Makassar
Wednesday, May 12, 2021
HomeKomunitasGelar Peluncuran dan Diskusi, Ameen.ID Usung Tagline Jendela Islam Moderat

Gelar Peluncuran dan Diskusi, Ameen.ID Usung Tagline Jendela Islam Moderat

Sivitas.ID, Gowa – Ameen.ID, salah satu media online yang baru saja diluncurkan, Minggu (11/04/2021). Ameen.ID hadir sebagai media Islam moderat sejalan dengan tagline-nya “Jendela Islam Moderat”. Kehadirannya akan menjadi media rujukan informasi kegamaan.

“Media Ameen.ID hadir sebagai media Islam yang moderat, bukan hanya meyediakan berita terkait keagamaan, tetapi juga konten-konten yang bernuansa Islami dan berisi konten amalan harian yang memiliki dasar dalil serta mempunyai fitur-fitur yang kekinian,” kata Fadlan L Nasurung, Founder Ameen.ID.

Peluncuran berlangsung di Warkop Mau.co, Jl Tun Abdul Razak, Kabupaten Gowa. Dirangkaikan dengan diskusi publik bertajuk “Islam Moderat dan Media Digital”.

Peluncuran dan Diskusi Publik Media Ameen.ID

Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (Lakpesdam PWNU) Sulawesi Selatan (Sulsel) Dr Saprillah Syahrir, dan Ketua Presidium JaDI Sulsel Mardiana Rusli hadir jadi narasumber.

Saprillah menjelaskan bahwa kemampuan manusia saat ini adalah memanipulasi dirinya akibat pengaruh digital, di mana dia berperan sebagai masyarakat global yang mudah terbaca oleh publik.

“Masyarakat global dengan meledaknya tekhnologi informasi memang secara terbentuk menjadi satu genre sosial baru namanya digital sosiologis atau masyarakat digital. Masyarakat ini bukan sekedar yang mempresentasikan dirinya secara palsu, tetapi memang masyarakat ini terbentuk sebagai satu ciri masyarakat global dan itu dengan mudah di tangkap ideologinya dalam keberpihakan,” jelasnya.

Ketua Balitbang Agama Makassar ini berpandangan, kemampuan itu berdampak kepada kepentingan kelompok yang mengakibatkan para pemuka agama tidak lagi dilihat dari sisi kealiman dan kesalehannya, tetapi dilihat dari popularitas, sehingga masyarakat yang tidak memiliki pengetahuan agama sangat mudah terpengaruh dengan radikalisme secara ideologis.

Selain itu menurutnya, yang mengikat masyarakat digital bukan lagi ideologis semata tetapi relevansi, ketika kepentingannya relevan dengan apa yang dikabulkan tanpa kajian. Akibatnya nanti otoritas keagamaan akan bergeser dari kapasitas ke popularitas.

“Jadi popularitas nanti tidak lagi menjadi perhitungan yang paling dominan ketika orang mengidolakan orang lain, tetapi popularitas. Semakin sering dia tampil di media dan semakin bagus kemasannya di media, maka dia semakin berpeluang untuk menguasai panggung wacana atau menguasai wacana,” ujarnya.

Penulis buku Kyai Shaleh itu melanjutkan, di Sulsel  kelompok-kelompok itu lebih awal bermain wacana banyak media sosial hingga wilayah kelompok lain dan itu berhasil mengubah pola pikir dari subtansional ke simbolis. Pola pikir seperti ini kemudian membentuk karakter intoleran dan klimaksnya menjadi radikalisme.

Dia melihat, seperti di wilayah Sulsel antara kelompok salafi dan NU. Kelompok Salafi itu muncul tahun 2000-an. Kalau dilihat di media sosial pengikut Salafi sudah puluhan ribu, sementara NU sendiri belum bergerak. Artinya mereka lebih dulu menguasai panggung.

Menurutnya, gejala intoleransi itu soal persepsi. Semakin simbolik orang semakin intoleran persepsinya. “Karena semakin kita semakin simbolik berarti kita semakin mennguatkan ekslusivisme beragama dan ekslusivisme beragama adalah salah satu indikator penting dari apa yang kita sebut dengan intoleransi,” paparnya.

“Media sosial menjadi ruang persemaian yang subur bagi gagasan islam simbolik. Bukan karena gagasan mereka lebih baik, tetapi karena mereka lebih cepat merasa tahu dan lebih sistematik ketika mereka menguasai panggung (lebih ter-set up),” lanjutnya.

Sementara itu, Pembicara kedua Mardiana Rusli (Ana) mengatakan, tantangan Ameen.ID setelah diluncurkan bukan hanya menggaunkan agama, tapi juga mampu membuat ulasan yang sangat detail karena saat ini masyarakat banyak mendapatkan informasi secara parsial. Sebab menjadi tugas media dalam mengawasi dan menyuguhkan kebutuhan publik.

“Tugas media yang menjadi gerakan bersama kita itu bagaimana pengawas di sekeliling kita yang berkorelasi dengan kepentingan masyarakat dan publik. Paling sederhana adalah bagaimana ideologi kelompok Islam tertentu itu ditanamkan lembaga-lembaga pendidikan (Sekolah, Madrasah, TPA) itu semua sudah mulai masuk. Ibu-ibu yang suka medsos, mereka itu sangat gampang mendapatkan informasi hanya sepenggal-sepenggal. Maka Ameen.ID ini punya ciri khas sendiri, dia harus mampu memberi ulasan yangg sangat detail, artinya enggelnya harus berbeda dengan media mainstream jadi lebih beridentitas,” katanya yang juga Praktisi Media.

Ana berharap Ameen.ID bisa menjadi penggerak pemuda Nahdliyyin dan menjadi media eksplorasi pendidikan.

“Kita harapkan Ameen.ID ini sebagai media penggerak dari kader NU, bukan hanya sebagai media tapi juga laboratorium pendidikan untuk memperkuat kaum-kaum Nahdliyyin (kader NU) paling tidak untuk memperkuat menulis. Anda semua di sini punya tanggung jawab moral,” pungkas Ketua Presidium JaDI Sulsel itu. (Syahid)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img

Most Popular

Recent Comments