24 C
Makassar
Wednesday, May 12, 2021
HomeKolomEsaiBumi Kebermaknaan (18)

Bumi Kebermaknaan (18)

SAYA lupa siapa yang ceritakan atau di mana saya membaca cerita berikut ini, yang menyajikan drama kehidupan yang sangat apik. Ada pasangan suami isteri yang baru menikah. Mereka membangun kehidupannya dari nol.  Mereka memulai dengan jual-jualan di pasar. Usahanya membaik, mereka menyewa los jualan, dan tidak lama sudah bisa dibelinya. Kemudian mereka membeli toko.

Setelah lebih berkembang, mereka mulai berbisnis antar daerah dengan memiliki beberapa mobil angkutan. Pasangan ini kemudian bahkan mengembangkan usahanya sampai bisa mengekspor. Mereka kemudian tumbuh menjadi salah satu orang terkaya di kota itu.

Suatu malam, pasangan ini sedang makan malam di rumah mewahnya. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dengan salam yang memelas. Isterinya pergi mengecek pintu. Dan setelah itu kembali ke meja makan dan berkata kepada suaminya: “Ada pengemis yang minta makan malam.” Suaminya memintanya untuk mengunci kembali pintu supaya makan malamnya tidak terganggu.

Beberapa tahun kemudian, terjadi masalah pada usahnya, bisnisnya goyah, mulai merugi, aset usahanya banyak dijual dan disita. Tidak lama kemudian bisnisnya bangkrut. Suami dari pasangan ini menjadi gila dan meninggalkan isterinya entah kemana.

Isterinya menjadi janda dan memulai menata hidupnya. Suatu saat dia dilamar dan memulai kembali usahanya dengan pasangan barunya. Nasib perempuan ini kembali berpihak. Usahanya dengan pasangan barunya kembali menanjak dengan perlahan sampai kembali menjadi kaya raya.

Suatu malam saat makan malam bersama, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Isterinya kembali pergi mengecek siapa yang mengetuk. Setelah itu dia kembali ke meja makan sambil berkata kepada suaminya: “Pengemis yang minta makan malam.” Lalu suaminya berkata: “Berikan semua makan malam kita.” Setelah itu si isteri membungkuskan semua makanan malam kepada pengemis itu. Saat dia kembali ke meja makan, perempuan itu menangis tersedu-sedu. Suaminya bertanya apakah dia menyesal memberikan semua makanan pada pengemis itu. Isterinya menjawab: “Pengemis yang meminta makan malam itu adalah suamiku dulu.” Dengan tenang, suaminya menimpali: “Pengemis yang meminta makan malam beberapa tahun lalu tapi ditutupkan pintu adalah saya.”

Cerita ini adalah gambaran ekstrim tentang kehidupan yang terbolak balik. Cerita ini menunjukkan bahwa capaian hidup ini bisa berubah seketika, dari pencapaian yang menjulang ke situasi titik nadir. Cerita ini menyajikan secara jelas siapa saja dalam hidup ini harus siap-siap untuk mendapatkan hal yang sebaliknya dari capaiannya.

Cerita ini juga menjadi pengingat untuk tidak mendewakan arogansi saat berada dalam kehidupan surplus, karena bisa saja di saat yang berbeda kita berada dalam situasi defisit. Cerita ini juga menjadi perenungan untuk berbuat yang terbaik bagi kemanusiaan selagi mendapatkan fasilitas kehidupan yang berlebih, sebelum kemewahan itu berakhir atau dicabut oleh Sang Maha Pemberi.

*Hamdan Juhannis

Avatar
Redaksihttps://sivitas.id
Sivitas.id adalah portal berita online berbasis kampus yang didedikasikan sebagai ruang diskursif warga kampus. Anda bisa mengirimkan tulisan anda ke email redaksi di redaksi@sivitas.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img

Most Popular

Recent Comments