24 C
Makassar
Wednesday, May 12, 2021
HomeKolomEsaiBumi Kebermaknaan (15)

Bumi Kebermaknaan (15)

CORETAN ini juga ikut bersimpati kepada pahlawan kita yang gugur, seluruh kru KRI Nanggala 402 dan duka mendalam buat keluarga mereka.

Semua yang bernyawa pasti mati. Bila tiba saatnya, tidak akan dimundurkan sesaat dan juga tidak akan dimajukan. Itulah  bunyi kitab suci yang kita selalu yakini. Namun yang tidak pernah  kita tahu adalah bagaimana caranya kita berpulang. Apakah kita berpulang dengan cara yang baik atau sebaliknya. Itulah kita selalu menuntun diri dalam jejak kita untuk berakhir dengan cara yang baik. Tuntunan itu dilakukan sebagai proses pembiasaan menuju titik terakhir persinggungan kita dengan dunia.

Dengan kata lain, pembiasaan diri pada prilaku luhur setiap saat juga akan menjadi kebiasaan pada bagian akhir dari hidup kita. Doa pemungkas atau doa sapu jagat  kebaikan di dunia dan di akhirat nyaris tidak pernah terlupakan dalam lantunan doa-doa kita. Berakhir dengan cara yang baik adalah puncak pencapaian spiritualitas kehidupan dunia. Meskipun memang kita tidak bisa membaca dengan pasti siapa yang memperoleh akhir yang baik itu. Kita hanya bisa membaca gejala ruang dan waktu pencapaian kebaikan itu.

Orang bijak mengatakan tuntunlah kematianmu saat kamu masih mengarungi kehidupan. Cara berpulang yang menakjubkan baru saja terjadi yang dialami guru saya, kemarin saat memberikan kultum duhur, sementara menutup ceramahnya di mimbar, lalu kepalanya tertunduk dan terjatuh dan saat itu juga wafat. Beliau  berpulang di medan kemuliaan.

Sebaliknya, konon ada seseorang yang sakarat. Pada proses berpisahnya ruh dan jasadnya, orang itu begitu aktif mengeluarkan kata-kata yang tak senonoh. Semua keluarganya tidak kaget dengan pemandangan menyeramkan itu, karena ternyata orang ini memang setiap berbicara, kebiasaanya selalu menyelipkan diksi tak senonoh, terutama saat marah, kosa kata yang keluar adalah nama-nama dari isi kebun binatang.

Kembali kepada pahlawan kita yang gugur dalam misi Nanggala 402, sungguh sebuah akhir yang mengagumkan. Mereka bekerja sebagai  penjaga laut bangsa, dan di sanalah mereka mengukuhkan kepahlawanan mereka. Mereka bukan sekadar berakhir  di laut, tetapi mereka menancapkan jati diri mereka dengan berakhir saat menjalankan tugas negara. Kita semua pantas bersedih. Mereka masih muda. Mereka pembela bangsa yang masih penuh energi.

Kita pastinya sudah membayangkan kesedihan yang mendalam buat keluarga yang ditinggalkan. Tapi satu hal yang tidak pernah terhapus, mereka gugur sebagai kusuma bangsa. Momen kepahlawanan yang tercapai saat berakhir itulah yang mejadi cita-cita tertinggi dari akhir kehidupan. Selamat jalan para angkatan Syuhada KRI Nanggala 402!

*Hamdan Juhannis

Avatar
Redaksihttps://sivitas.id
Sivitas.id adalah portal berita online berbasis kampus yang didedikasikan sebagai ruang diskursif warga kampus. Anda bisa mengirimkan tulisan anda ke email redaksi di redaksi@sivitas.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img

Most Popular

Recent Comments