23 C
Makassar
Tuesday, June 22, 2021
HomeSastraPuisiPuisi: Anomali

Puisi: Anomali

SEIRING hujan membasahi tanah, bebatuan dan daun-daun bersorak
Seketika malam berpendar cahaya dari deret tiang-tiang menjulang
Seumpama kita tak seperti saat senja merona di ufuk cakrawala
Sepatah-kata kelak akan mampu menggores luka, lalu hujan menjadi tempat bersinggah

Sebagaimana idealitas terbang tertiup badai, hilang tersapu derasnya arus
Kenangan hanyalah cerita usang penuh debu di atas buku-buku tua
Kusam dimakan usia
Membiarkannya lapuk digerogoti masa
Kemudian kita hanya bisa berkisah, dulu!

Mungkin benar bahwa kita tengah mengidap lupa
Pada segala dalam kurun waktu sejarah
Hingga gontai melangkah tak tentu arah
Maju kebelakang lalu mundur kedepan

Itu sebuah lelucon yang pantas ditangisi
Agar kita menertawai diri sendiri
Musabab hati kian gersang
Akal kian berkarat

Sesaat setelah hujan reda dan langit menjadi cerah
Semua akan terjaga dari halusinasi panjang
Membuka mata lalu mulai bermimpi
Bahkan, kita seringkali terbangun untuk kembali tidur!

*M. Fadlan L Nasurung

Redaksihttps://sivitas.id
Sivitas.id adalah portal berita online berbasis kampus yang didedikasikan sebagai ruang diskursif warga kampus. Anda bisa mengirimkan tulisan anda ke email redaksi di redaksi@sivitas.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img

Most Popular

Recent Comments