24 C
Makassar
Wednesday, May 12, 2021
HomeKolomOpiniAgama; Korban Terorisme Global

Agama; Korban Terorisme Global

DALAM satu dasawarsa terakhir ini, terorisme memiliki tempat dan seakan gerakannya mendapatkan justifikasi ketika disandingkan dengan doktrin-doktrin agama yang dipahami secara parsial. Akibatnya, agama yang seharusnya membawa kepada kedamaian dan kesejukan, justeru mendapatkan stigma yang sangat negatif akibat dibonceng oleh gerakan terorisme yang seringkali mengatasnamakan agama. Atas nama agama, teroris menebar ketakutan dan kebencian. Agama mengalami distorsi, dan oleh dunia Barat agama dituduh sebagai penyebab lahirnya gerakan radikalisme dan terorisme.

Radikalisme dan terorisme sebenarnya tidak ada kaitan langsung dengan nilai dan doktrin agama. Semua agama mengajarkan perdamaian, persatuan dan menunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Demikian pula semua kitab suci agama-agama yang diyakini oleh umat manusia, menunjukkan bahwa dalam ajaran agama yang berkenan dengan persoalan kerukunan dan kedamaian memiliki landasan teologi yang kuat. Artinya, persoalan kemanusiaan merupakan salah satu inti dari ajaran agama. Di samping itu, dalam konteks Islam upaya menyebar kedamaian dan kerukunan dalam rangka melaksanakan tugas suci harus berpijak pada tiga pilar utama, yaitu: al hikmah (bijaksana), al- mauizhah hasanah (nasehat yang baik) dan jadl (debat dialogis (al-Qur’an al Nahl: 125).

Menurut Budhy Munawar Rahman, fenomena radikalisme dan terorisme bukan saja monopoli dunia Islam. Perdana Menteri Israel Yitzak Rabin dibunuh oleh Yigal Amir. Pembunuhnya dengan tegas menyatakan bahwa ia melakukan pembunuhan itu atas dasar perintah suci agama yang direstui Tuhan. Kelompok Ultra Ortodoks turut merayakan tewasnya Yitzak Rabin, termasuk di Amerika Serikat bahkan mereka mengumpulkan dana untuk membiayai proses pembelaan hukum terhadap Yigal Amir.

Radikalisme di dunia Kristen menurut Alwi Sihab pun tidak kalah banyaknya. Eksekusi yang dilancarkan mainstream Kristen kepada kelompok yang berbeda pendapat dari sikte lainnya yang lazim dinamakan kelompok sempalan juga mewarnai sejarahnya. Perdana Menteri India Indira Gandhi dibunuh atas dasar motif sintemen agama. Pemuka Agama Yahudi Shlomo Goren pernah berfatwa bahwa pembunuhan atas Yasser Arafat merupakan bagaian dari salah satu tugas suci keagamaan. Semuanya dilakukan dengan dalih melaksanakan perintah Tuhan yang terdapat dalam teks-teks suci keagamaan.

Dengan demikian, fenomena radikalisme dan terorisme tidak saja terjadi di dalam kalangan umat Islam, tetapi juga di kalangan penganut agama lain. Hanya saja, karena umat Islam berada dalam subordinasi kekuatan teknologi informasi dan komunikasi dunia Barat, dan frekuensi gerakan dan aktor di balik teror sering dilakukan oleh mereka yang menyatakan diri sebagai penganut Islam, maka gerakan radikalisme dan terorisme seringkali dialamatkan kepada Islam.

Agama; Korban

Di dunia Barat, Islam digambarkan sebagai komunitas yang tidak dapat bersikap ramah, kotor, tidak memiliki rasa humor dan suka kekerasan. Gambaran orang mengenai citra Islam sebagai agama yang menolerir radikalisme dan menganjurkan kekerasan dalam menyelesaikan masalah, sampai saat ini tampaknya belum sepenuhnya sirna. Opini ini diperparah dengan provokasi media Barat yang memang cenderung mendiskreditkan Islam. Atas dasar ini, Akbar S. Ahmad pernah menyindir pers Barat sebagai media yang hanya memiliki kegemaran memberitakan berita negatif tanpa memberikan ruang berita untuk hal-hal yang positif. Dalam kaitan ini, agama tampaknya dibajak sementara nilai kesucian dan keagungannya menjadi kabur oleh perilaku penganutnya.

Muhammad Abduh seorang pembaharu Islam dari Mesir pernah berkata: “(Keagungan) Islam ditutupi oleh perilaku penganutnya”. Pernyataan Muhammad Abduh ini tampaknya menjadi sebuah fakta tak terbantahkan. Kemuliaan agama yang mengajarkan nilai-nilai universal tentang kehidupan justeru dihancurkan oleh gerakan radikalisme dan terorisme. Pelaku terorisme pada dasarnya telah mempermalukan pemeluk beragama yang memegang teguh nilai-nilai kemanusiaan.

Kasus penculikan mahasiswa, cuci otak, dan pemerasan (penipuan) atas nama NII (Negara Islam Indonesia), dan teror bom bunuh diri di Mesjid al-Zikra yang dilakukan oleh Muhammad Syarif, kasus Bom Gereja di Surabaya yang dilakukan oleh pasangan suami-istri dan melibatkan anaknya, dan terakhir kasusu Bom Makassar seakan menjadi legal stamp, yang memperburuk citra agama (Islam) di mata dunia.

Terorisme bukan saja mendatangkan kecemasan dan menelan korban tak berdosa, tapi juga menutupi kemuliaan agama. Agama Islam misalnya, yang ajaran intinya menyebarkan perdamaian, kepedulian dan ramah tamah (afsyus salam, ith’am al-tha’am, layyin al-kalam) justeru dituduh sebagai agama yang mengajarkan kekerasan dan dan terorisme akibat olah “oknum” teroris yang mengatasnamakan agama. Di sisi lain, genderang perang terhadap terorisme juga tidak kalah menyeramkannya dengan terorisme itu sendiri. Atas nama perdamaian, mereka yang ditugaskan memberantas terorisme sering bertindak di luar batasan nilai-nilai kemanusiaan dan melanggar hak asasi manusia. Sejumlah laporan dari Amerika dan Perancis merilis betapa sulitnya menjadi warga minoritas muslim di tengah gencarnya perang terhadap terorisme global.

Saat ini hubungan Islam-Barat mengalami pasang surut. Isu-isu sentral yang menyebabkan retaknya hubungan ini adalah kebijakan Barat (Amerika dan sekutunya) terkait konflik Palestina, Afganistan, Irak, Suriah, Yaman, dan termasuk Libya. Meski pada masa pemerintahan Obama, dia menegaskan dalam sebuah konferensi pers bahwa perang terhadap terorisme bukanlah perang terhadap agama (Islam), tetapi perang terhadap kejahatan kemanusiaan. Pernyataan ini tentu sangat positif, tetapi tidak serta-merta mampu mengubah image masyarakat Barat yang sering mengidentikan Islam dengan terorisme.

Oleh karena itu, keinginan sejumlah tokoh agama, baik NU, Muhammadiyah maupun tokoh lainnya untuk membangun citra Islam yang positif harus didukung secara maksimal. Dalam konteks ini dialog agama tidak cukup hanya pada level saling pengertian atau sekadar pemahaman akan perbedaan, tetapi bagaimana merevitalisasi peran agama sehingga terwujud nilai-nilai kemanusiaan. Para tokoh perlu duduk dan berpikir bersama untuk merumuskan bagaimana dunia ini harus ditata ulang (re install) berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial, sehingga agama dan penganut agama tidak lagi menjadi korban akibat lahirnya gerakan terorisme.

*Dr Barsihannor M Ag, Dosen Pemikiran Islam UIN Alauddin Makassar

Avatar
Redaksihttps://sivitas.id
Sivitas.id adalah portal berita online berbasis kampus yang didedikasikan sebagai ruang diskursif warga kampus. Anda bisa mengirimkan tulisan anda ke email redaksi di redaksi@sivitas.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img

Most Popular

Recent Comments