29 C
Makassar
Thursday, March 4, 2021
Home Kolom Esai Pulau Salemo: Tapak Peradaban dan Harapan

Pulau Salemo: Tapak Peradaban dan Harapan

oleh: Suriadi, Kader PMII Cabang Gowa

Sejarah adalah sebuah medium pengetahuan. Dengannya,  kita dapat mengetahui apa yang mesti dipertahankan, dikukuhkan, dan dikembangkan. Sejarah layaknya sebuah lampu lalu lintas yang memberi isyarat, kapan kita mesti berhenti, berhati-hati, dan berjalan. Sedemikian pentingnya pengetahuan akan sejarah, hingga seorang penyair Arab pernah berdendang “barangsiapa menampung sejarah dalam benaknya maka ditambahkan usia baginya”. Tentu penambahan usia yang dimaksud itu bukan dari segi kuantitas, melainkan produktivitas dan kemanfaatan hidup bagi banyak orang.

Tak terkecuali sejarah berkembangnya ajaran Islam di Pulau Salemo, yang merupakan kepingan sejarah berkembangnya Islam di Sulawesi Selatan. Pulau dengan luas 10 Km persegi ini terletak di Kabupaten Pangkep, yang sayup-sayup kita dengar sebagai “Pulau Para Ulama”. Di sanalah tempat dikadernya sebagian ulama-ulama kharismatik, yang kemudian membawa pengaruh besar dalam proses dakwah untuk memahamkan ajaran Islam kepada masyarakat.

Penduduk di Pulau Salemo kini sebanyak 2.806 jiwa, di mana semuanya menganut agama Islam. Sebagian besar penduduknya memiliki kebiasaan shalat berjamaah di Masjid Nurul Ulama, yang oleh Ketua Kementerian Agama Pangkep sekarang dinyatakan sebagai Masjid tertua di Kabupaten Pangkep. Pulau yang didalamnya pernah dibangun sebuah Pesantren yang dikenal sebagai Pesantren Salemo, adalah sebuah jejak sejarah yang menandakan bahwa ajaran Islam benar-benar pernah tumbuh dan didalami di Pulau tersebut.

Pesantren Salemo

Entah apa yang kemudian mendasari Pulau tersebut dinamai Salemo. Konon katanya, di atas hamparan gugusan pasirnya pernah ditumbuhi banyak pohon jeruk, yang dalam bahasa bugis disebut ‘lemo’, dan potongan kata ‘sa’ yang mengawalinya, menandakan bahwa Pulau tersebut berada di Kecamatan Liukang Tupabbiring Utara, sehingga dinamailah Salemo.

Di sisi lain, juga ada yang menyatakan bahwa kata itu berasal dari kata saleh (orang yang taat akan ajaran agama) kemudian ditambahi akhiran ‘mo’, yang jika diartikan dalam dialek Bugis-Makassar, bermakna bahwa engkau telah saleh, sehingga orang yang berkunjung ke Pulau tersebut dinyatakan telah menjadi orang saleh.

Jika ingin memahami lebih jauh pernyataan kedua, maka berkunjung yang dimaksud tentu bukanlah berkunjung seperti halnya mengunjungi sebuah tempat dalam jangka waktu satu dua hari bahkan seminggu saja, melainkan seberapa lama orang yang berkunjung itu menetap kemudian belajar di Pesantren yang pernah dibangun di Pulau tersebut. Demikian itu untuk menghindari kesan bahwa Pulau itu menyulap orang yang berkunjung menjadi orang saleh seketika. Pesantren yang dari rahimnya lahir ulama-ulama hebat pada bentangan tahun 1900 sampai tahun 1955 itu dinamai Pesantren Salemo. Pesantren yang menjadikan Pulau yang didiami sebagai lingkungannya. Di dalamnya terdapat Masjid besar, yang selain sebagai tempat ibadah shalat, juga dijadikan sebagian wadah oleh warga untuk belajar ilmu agama kepada para Anregurutta (Kiai) melalui pengajian-pengajian yang digelar.

Tersebutlah para Anregurutta yang pernah menggelar pengajian mengajarkan ajaran Islam seperti KH Abdullah Betti (Bone), KH Abdul Azis (Maros), Puang Palili (Salemo-Pangkep), KH Muhammad Amin (Salemo-Pangkep), KH Muhammad Sanusi (Segeri-Pangkep), KH Muhammad (Ma’rang-Pangkep), KH Abdurrasyid (Salemo-Pangkep), KH Manajollo-Puang Panrita, dan KH Minhajuddin.

Para Kiai itulah yang menabur benih peradaban di Pulau tersebut. Tradisi belajar dan ilmu agama yang dipelajari warga, diajarkan pula kepada anak-anaknya, hingga pada akhirnya semangat belajar mereka semakin terpacu dan terbentuklah tradisi belajar ala santri. Mereka sudah tidak hanya belajar di Masjid saja, tetapi mendatangi rumah-rumah yang ditinggali para Kiai yang mengampuh spesifikasi ilmu keagamaan yang berbeda, mulai dari belajar mengaji, bahasa arab sampai pada belajar persoalan akidah, fikih, dan tawasuf.

Dari Pesantren Salemo itu, lahirlah beberapa ulama kharismatik, salah satu diantaranya KH Abdurrahman Ambo Dalle (Wajo), perintis Pesantren DDI yang berpusat di Kabupaten Barru.

Sebagian para Kiai tinggal di rumah yang diwakafkan warga. Persoalan pangan untuk kebutuhan hidup sehari-hari mereka ditanggung oleh para saudagar dermawan dan warga yang mampu. Pada waktu itu, perekonomian warga cukup menjanjikan. Mereka hidup berkecukupan dari hasil laut yang melimpah ruah dan dengan mudah mendapatkan barang dagangan dari para saudagar Muslim yang berasal dari Timur Tengah dan Asia seperti Cina dan Tiongkok, yang biasa berlabuh menjajakkan barang dagangannya. Bahkan halaman luas Masjid Nurul Ulama yang bermakna “Masjid Cahaya Ulama di pulau tersebut menjadi salah satu tempat bagi warga dan pendatang menggelar barang dagangan.

Demikian suasana keramaian dan keharmonisan tercipta dan terjalin di Pesantren Salemo. Relasi para Kiai dengan warga terjalin sedemikian kuat. Cahaya tradisi belajar pun semakin terang, persoalan ekonomi tak menjadi penghalang, dan sinergitas antara mereka bagaikan genderang yang memberi isyarat bahwa tapak peradaban tengah dibangun. Namun pada saat tentara sekutu membombardir Pulau tersebut untuk mengusir tentara Jepang, maka tapak peradaban yang tengah dibangun itu hancur seketika. Warga dan para Kiai pun terpaksa memilih angkat kaki dari Pulau dan Pesantren Salemo.

Seperti yang telah diungkap pada awal tulisan ini, bahwa tentu kita – khususnya warga Salemo dan umumnya pemerintah Kabupaten Pangkep – sudah paham betul apa yang mesti dipertahankan, dikukuhkan, dan dikembangkan untuk mengembalikan peradaban yang pernah dibangun itu. Pernyataan Kepala Desa Mattiro Bombang tiga tahun lebih yang lalu untuk mengembalikan Pulau Salemo sebagai “Pulau Pencetak Ulama” adalah sebuah angin segar yang ditunggu sejak dulu dan dinanti sekarang ini.

Namun yang terpenting dan yang lebih utama dilakukan dari rencana pengembalian itu adalah membangun kembali tradisi belajar yang kini cahayanya perlahan redup, sebagai tonggak awal untuk melanjutkan pesantren yang pernah dibangun. Begitu pun dengan sinergitas yang kini tak menunjukkan ikatan yang kuat lagi, seyogyanya diperkuat dan dijalin kembali dengan harmonis lebih awal, seperti halnya berpuluh-puluh tahun lalu, sebagai kekuatan dan modal utama dalam bahu-membahu. Tak luput persoalan ekonomi, yang merupakan persoalan yang biasanya menimbulkan persoalan baru yang semakin keruh jika tidak dipikirkan dan disediakan perangkat-perangkatnya lebih awal dengan matang.

Mengembalikan tapak peradaban yang pernah dibangun itu memang bukanlah pekerjaan mudah yang segera jadi dalam waktu singkat. Keadaan telah berubah, generasi para Kiai sebagai urat nadi sebuah Pesantren, kini sebagian telah wafat dan yang masih hidup pun tak lagi bermukim di Pulau tersebut. Tak ada lagi kapal-kapal saudagar asing yang berlabuh menjajakkan barang dagang, infrastrukur transportasi sudah sedemikian canggih.

Hasil laut pun kini tak selimpah ruah dulu, ekosistem laut sudah kurang digdaya menawarkan kehidupan, sebab sebagian orang juga sudah tak peduli lagi dengan kehidupan laut. Pada akhirnya, ikhtiar sungguh-sungguh yang disertai doa sembari tetap optimis untuk mengembalikan tapak peradaban itu adalah sebuah pilihan bersama yang sedapat mungkin direalisasikan agar dapat mewujud kembali.

Avatar
Redaksihttps://sivitas.id
Sivitas.id adalah portal berita online berbasis kampus yang didedikasikan sebagai ruang diskursif warga kampus. Anda bisa mengirimkan tulisan anda ke email redaksi di redaksi@sivitas.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments