27 C
Makassar
Tuesday, September 21, 2021
HomeKolomOpiniProf Hamdan Juhannis dan Kampus Asri

Prof Hamdan Juhannis dan Kampus Asri

(Refleksi Satu Tahun Kepemimpinan Prof Hamdan Juhannis di UIN Alauddin Makassar)

Sivitas.ID – Hari Kamis 23 Juli 2020, tepat satu tahun masa kepemimpinan Prof Hamdan Juhannis sebagai rektor UIN Alauddin Makassar. Sejak dilantik pada 23 Juli 2019, sebagai alumni yang pernah menimba ilmu di kampus ini, penulis melihat perubahan-perubahan yang cukup signifikan. Awal dilantik, beliau berusaha melakukan terobosan-terobosan dengan terjun langsung ke sudut-sudut kampus dan memotret setiap kendala-kendala yang dianggap perlu perbaikan.

Kendala yang cukup menyita perhatian di UIN Alauddin Makassar ialah soal kebersihan, terutama sampah yang hampir bisa dijumpai di setiap sudut kampus. Terkait persoalan tersebut, salah satu Pancacita dalam bidang Non-Akademik yang menarik perhatian penulis adalah “Kampus Asri”. Kampus yang bersih, asri dan nyaman tentulah menjadi harapan dan impian seluruh sivitas kampus. Lewat tangan dingin Prof Hamdan harapan dan impian itu kini menjadi nyata, bila tak percaya, silahkan berkunjung ke Kampus II Samata, tentu dengan mematuhi protokol kesehatan yang ada.

Terobosan yang dilakukan Prof Hamdan melalui Pancacita sebagai visi kepemimpinannya patut diapresiasi. Cita menuju kampus peradaban tentu adalah hal yang mustahil, jika di dalam area kampus, sampah menjadi pemadangan lumrah.

Bagi sebagian orang hal ini mungkin sepele, tetapi bagi penulis sebagai alumni, ini adalah sebuah gebrakan luar biasa bagi kemajuan almamater hijau.

Sebab, salah satu syarat menuju kampus peradaban ialah keindahan (estetika), hal ini hanya akan terjadi jika seorang pemimpin mampu membaca, melihat, menganalisis dan bertindak untuk menyelesaikan persoalan-persoalan mendasar yang ada di depan mata.

Membangun kesadaran mahasiswa, pegawai, pejabat di UIN Alauddin tentu harus dimulai oleh pemimpinnya, dan hal inilah yang terah dilakukan oleh Prof Hamdan Juhannis. Meminjam istilah Ki Hajar Dewantara, seorang pemimpin haruslah yang Ing Ngarsa Sung Tulada (Didepan, memberi teladan).

Mungkin saja, dalam benak Prof. Hamdan Juhannis, membangun kesadaran seluruh masyarakat kampus akan pentingnya menjaga kebersihan adalah hal yang sulit, bukan karena orang-orang menganggap kebersihan itu tidak penting. Penulis yakin dibenak pikiran kita semua, terutama UIN yang notabene berlabel agama, “kebersihan adalah bagian dari iman”.

Namun, pikiran dan atau bahkan keyakinan saja tidak cukup, nilai-nilai positif harus diupayakan semaksimal mungkin agar dapat menjadi praktik kolektif sebuah komunitas/masyarakat.

Sehingga, langkah yang diambil Prof Hamdan dan jajarannya untuk membenahi sistem kerja petugas kebersihan kampus, menjadi pembukan jalan bagi terbangunnya iklim kampus yang bersih dan tentu akan mendorong transformasi kehidupan warga kampus dari kesadaran pentingnya kebersihan, menuju tindakan menjaga kebersihan dan terlibat aktif membersihkan lingkungan area kampus.

Di awal kepemimpinannya, dengan melibatkan para mahasiswa dalam hal ini lembaga kemahasiswaan, diselenggarakanlah pemilihan Duta Kampus Asri dengn jargon SAMATA (Sama-sama Ambil SampahTa’).

Hal tersebut merupakan bentuk upaya membangun sinergi dengan seluruh elemen kampus untuk menciptakan kesadaran dan praktik hidup bersih secara kolektif.

Untuk membangun sebuah lingkungan komunitas kampus yang baik, tentu butuh sinergitas seluruh elemen di dalamnya. Itu hanya bisa diwujudkan jika pimpinan memahami betul persoalan yang terjadi di lapangan, ia sesekali turun melihat langsung kenyataan-kenyataan yang ada, mengamati dan mengabatraksikannya sambil berselancar di alam ide untuk mencari solusi-solusi yang relevan.

Selain itu, ia juga harus mampu membangun soliditas di tingkat jajaran pimpinan, baik di tingkat universitas maupun pimpinan di tingkat fakultas, dan juga dengan melupakan peran lembaga-lembaga kemahasiswaan yang menjadi soko guru bagi dinamika kampus yang produktif, dengan begitu akan tercipta gerak kerja yang sinergis dan simultan, sehingga semua elemen dapat bergerak bersama untuk kemajuan kampus.

Sebagai alumni jurusan Ilmu Politik, penulis memiliki harapan tersendiri agar iklim demokrasi di kampus dapat berjalan dengan sehat. Mengingat, awal tahun 2020 kemarin, UIN Alauddin Makassar mendapat kerpercayaan untuk menjadi bagian dari 35 universitas negeri dan swasta se-Indonesia yang menjadi subjek pengarusutamaan (mainstreaming) demokrasi. Sebuah capaian yang tentu membanggakan.

Akhir kata, satu tahun kepemimpinan Prof Hamdan Juhannis sebagai Rektor UIN Alauddin Makassar, tentu bukan waktu yang cukup untuk membenahi kampus dengan pendaftar terbanyak di UM-PTKIN 2020 tersebut. Paling tidak, di awal kepemimpiannya, penulis melihat harapan-harapan mulai menjadi kenyataan. Selamat bekerja Prof, teruslah “Melawan Takdir”.

Penulis: Fathullah Syahrul, Alumni UIN Alauddin Makassar, Mahasiswa Pascasarjana UNPAD

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img

Most Popular

Recent Comments