23 C
Makassar
Sunday, February 28, 2021
Home News Liputan Khusus Membumikan Pancacita di Kampus Paradaban

Membumikan Pancacita di Kampus Paradaban

(Wawancara Khusus Satu Tahun Kepemimpinan Prof Hamdan Juhannis Di UIN Alauddin Makassar)

Sivitas.ID, Makassar – Hari ini, Kamis (23/7/2020), genap satu tahun kepemimpinan Prof Hamdan Juhannis menjadi Rektor UIN Alauddin Makassar. Terhitung sejak ia dilantik pada 23 Juli 2019 setahun lalu.

Salah satu Rektor termuda PTKIN itu, memimpin UIN Alauddin Makassar dengan membawa visi-misi yang dituangkan dalam Pancacita. Pancacita adalah visi dan orientasi yang menjadi koridor dalam menjalankan kepemimpinannya.

Pancacita tersebut terbagi menjadi Pancacita Bidang Akademik dan Pancacita Bidang Non-Akademik. Pancacita Bidang Akademik terdiri atas; Prodi yang andal, Moderasi beragama yang mengakar, Jejaring yang kuat, Publikasi yang aktif dan Data yang terintegrasi.

Sementara itu, Pancacita Non-Akademik terdiri atas; Kampus yang asri, Tradisi yang terjaga, Bisnis yang produktif, Kesejahteraan yang meningkat dan Alumni yang kompetitif.

Dalam wawancara khusus via WhatsApp, Prof Hamdan Juhannis berbagi sejumlah capaian Pancacita selama setahun kepemimpinanannya, berikut kutipan wawancaranya.

Sejauh mana capaian Pancacita di satu tahun kepemimpinan ini Prof?

Pertama-tama, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh jajaran pimpinan, sivitas akademik dan keluarga besar UIN Alauddin Makassar atas kerjasama dan kerja kerasnya memajukan kampus tercinta ini, kampus peradaban.

Terkait dengan capaian Pancacita, saya ingin memulai dulu dari Pancacita Non-Akademik. Salah satu prioritas kami di awal kepimpinan adalah bagaimana mewujudkan kampus yang asri. Berbagai langkah telah kami lakukan bersama seluruh jajaran untuk mewujudkan impian tersebut. Seperti yang kini masih terus dilakukan adalah memastikan sistem kerja petugas kebersihan kampus berjalan secara efisien dan membangun kesadaran kolektif bagi seluruh sivitas kampus terkait pentingnya menjaga kebersihan kampus.

Bekerjasama dengan provider mitra yang telah berpengalaman dan petugas-petugas kebersihan yang telah dibekali pelatihan khusus, mereka bekerja dengan standar profesionalitas yang baik, sebagaimana yang kami harapkan.

Tidak terlihat lagi petugas-petugas kebersihan yang melalaikan tugasnya. Mereka secara reguler dikontrol oleh para pengawas kebersihan. Kondisi ini tentu menjadi spirit baru bagi kita dalam rangka menciptakan kampus bersih dan asri.

Selain membenahi sistem kerja petugas kebersihan, apa strategi lain mewujudkan kampus asri Prof?

Yah. Selain memastikan petugas kebersihan bekerja secara profesional, kami juga melakukan gerakan sadar kebersihan bagi semua elemen kampus, yang memang cikal bakalnya sudah terbangun sejak dicanangkannya Gerakan Bersih Kampus (GBK) pada kepemimpinan sebelumnya.

Kita gerakkan semua elemen kampus untuk penciptaan kesadaran kolektif. Berulang kali kami melakukan kerja bakti massal dimana semua stakeholder kampus kita gerakkan, kita bagi zona yang menjadi tanggung jawab setiap fakultas dan lembaga.

Di ranah kemahasiswaan misalnya, Dewan Mahasiswa UIN Alauddin kita dorong dan berhasil mewujudkan pemilihan Duta Kampus Asri yang melahirkan jargon SAMATA (Sama-Sama Ambil SampahTa’). Para Duta inilah yang banyak mendampingi saya saat turun langsung berjibaku di lapangan.

Hasilnya, perlahan tapi pasti, kampus UIN Alauddin Makassar yang kita cintai ini tampak lebih asri, hijau, rumput-rumputnya tertata rapi karena secara berkala dilakukan pemeliharaan, tidak terlihat lagi tumpukan sampah yang biasanya berlindung di balik gedung-gedung kampus, tidak ada lagi sampah-sampah berserakan di sekitar kantin. Lapangan kampus yang menjadi titik episentrum kita pastikan kebersihannya.

Selain itu, fasilitasi dengan jogging track yang menambah keasrian kampus. Warga kampus yang biasanya melakukan jogging di luar, kini mereka bisa memanfaatkan jogging track kampus. Kesadaran pentingnya menjaga kebersihan sudah mulai menyeruak di tengah-tengah kampus.

Kesadaran itu tidak hanya hadir pada sebagian dosen, tetapi sebagian besar mahasiswa-mahasiswi kita sudah mulai memperlihatkan asa baru pentingnya menjaga keasrian kampus. Ini tentu menjadi modal awal bagi kita untuk mewujudkan kampus yang lebih asri sebagaimana kampus-kampus maju di luar negeri.

Namun demikian, dalam menata kampus yang lebih asri, masih banyak hal yang harus dibenahi; jalan-jalan di dalam kampus perlu segera diperbaiki, manajemen parkir masih perlu penataan lebih jauh, rambu-rambu lalu lintas dalam kampus masih membutuhkan pengaturan yang lebih baik, serta perlunya menyediakan fasilitas-fasilitas publik bagi mahasiswa. Semua ini kita akan benahi secara bertahap demi perwujudan kampus asri sebagaimana mimpi saya di atas.

Selain kampus yang asri, apa lagi capaian Pancacita Non-Akademik selama satu tahun kepemimpinan Prof?

Selain kampus asri, peningkatan kesejahteraan juga menjadi prioritas, ikhtiar itu kami mulai dengan dengan menaikkan upah tenaga honorer dan sekaligus menaikkan gradenya.

Kami menaikkan upah secara signifikan dengan memberi tambahan gaji sebesar 700 ribu, dan khusus bagi operator, kita menaikkan gradenya dari 3a ke 3b. Bahkan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan bagi para pegawai dan dosen kita, untuk pertama kalinya, kita memberikan remun 13 (P1) di setiap akhir tahun dan remun 13 (LKD) khusus dosen pada pembayaran semester ganjil.

Lalu bagaimana dengan capaian Pancacita Bidang Akademik sendiri Prof?

Dalam Pancacita bidang akademik, prioritas utama selama satu tahun ini adalah bagaimana meningkatkan sistem informasi dengan “Data yang terintegrasi”, dengan terintegrasinya data akademik maka sistem controlling dan monitoring mahasiswa-mahasiswa dan dosen-dosen dapat dengan mudah dilakukan.

Misalnya saja, presentasi dan pelaporan pembelajaran pada masa pandemi ini, untuk mengontrol tingkat dan persentase kehadiran dosen-dosen setiap fakultas dan program pascasarjana dapat dilakukan dengan mudah.

Pada semester genap tahun ini, kita bisa mendapatkan data yang akurat tentang pencapaian pembelajaran kita yang dilakukan secara daring; dari 5049 kelas, ada 4982 yang terisi, atau mencapai 99 %. Sisanya adalah pembelajaran praktikum yang harus dilakukan secara offline yang dimundurkan karena masalah covid 19. Kita juga bisa menyajikan data bahwa rata-rata dosen melakukan pertemuan sebanyak 15,2 persen, yang artinya semua sudah melakukan interaksi diatas 12 kali pertemuan.

Bahkan kita bisa membaca data tentang mata kuliah dari dosen yang mahasiswanya 100 persen selalu mengikuti kuliah, atau mata kuliah dengan presentasi terendah kehadiran mahasiswanya.

Kita juga bisa mentrace seberapa aktif seorang mahasiwa mengikuti mata kuliah yang mereka programkan. Tentu data akademik seperti ini sewajarnya memang harus tertata dan hanya bisa dengan sistem integrasi data yang baik, informasi akademik seperti ini dengan mudah bisa dibentangkan untuk ditindaklanjuti dengan kebijakan yang tepat. Begitu pula dalam sistem pelaporan dosen ke depan, terutama pada penilaian BKD (Beban Kerja Dosen) dan LKD (Lembar Kinerja Dosen), dosen tidak perlu lagi disibukkan dengan menscan dokumen karena data-data kita sudah terintegrasi dalam satu sistem pada pangkalan data kita di PUSTIPAD.

UIN Alauddin kini telah memegang akreditasi institusi A, meraih capaian tersebut dan mempertahankannya tentu tidak mudah, apa strategi untuk itu Prof?

Tentu tidak mudah, akreditasi A tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi kami. Salah satu upaya yang terus dilakukan adalah mewujudkan “Prodi yang andal” sebagaimana yang tertuang dalam salah satu Pancacita bidang Akademik.

Program studi yang andal dan unggul, indikatornya adalah akreditasi. Dalam satu tahun kepemimpinan kami, setidaknya ada dua jurusan baru yang telah berhasil memperoleh akreditasi, yaitu Prodi PIAUD di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan dan Prodi Ilmu Falak di Fakultas Syariah dan Hukum, keduanya mendapatkan akreditasi B.

Publikasi yang Aktif juga menjadi bagian dari Pancacita Akademik yang diusung, apa hasilnya setelah satu tahun perjalanan kepemimpinan ini Prof?

Tidak ada pilihan lain, publikasi harus terus digenjot. Caranya, tidak hanya menyasar dosen-dosen baru, tetapi juga dosen-dosen senior. Saat ini kami sedang melaksanakan program penulisan 100 buku referensi. Program itu rencananya akan dilakukan setiap tahun dengan seleksi ketat, terbuka dan memakai standar turnitin yang ketat.

Batas plagiasi yang kita jadikan panduan dalam penulisan buku referensi ini adalah 20 persen. Langkah ini kita lakukan demi mewujudkan buku-buku original yang berbeda dengan buku-buku yang sudah ada. Program ini diharapkan akan menghasilkan buku-buku referensi yang pada gilirannya tidak hanya disitasi oleh lingkungan internal UIN Alauddin, tetapi buku ini akan dibaca oleh dunia global.

Selain itu, dalam rangka peningkatan publikasi dosen-dosen, kami terus memberi support pada rumah jurnal yang terus berpacu dan berkreasi dalam meningkatkan level sinta mereka. Saat ini, jumlah jurnal yang terakreditasi sinta terus bertambah sehingga sekarang ini sudah terdapat 38 jurnal terakreditasi. Hanya saja, level sinta jurnal-jurnal tersebut masih berhenti pada level sinta 2.

Kita belum memiliki jurnal bereputasi internasional yang biasanya diasosiasikan dengan jurnal level sinta 1. Level sinta satu ini sepertinya masih menjadi mimpi di kampus tercinta ini. Namun demikian, usaha menuju ke sana sedang kita lakukan. Insya Allah pada periode kepemimpinan kami, jurnal sinta 1 atau terindeks scopus menjadi target utama.

Penguatan Jejaring dalam Pancacita Akademik, apakah juga jadi prioritas dalam satu tahun ini Prof?

Pastinya, sekarang ini UIN Alauddin Makassar tergabung dalam forum Human Capital Indonesia yang didalamnya terdapat 200 perusahaan yang siap menampung mahasiswa yang ingin mengikuti Program Magang Bersertifikat (PMMB) di berbagai bidang. Dari 200 perusahaan tersebut, terdapat 20 perusahaan yang sudah memiliki ikatan kerjasama dengan UIN Alauddin.

Banyak mahasiswa kita yang berprestasi sedang melakukan magang di berbagai BUMN tersebut  seperti Pelindo, Angkasa Pura, Semen Tonasa, BTN, Pertamina, BRI, Perusahaan Gas Indonesia, Pegadaian, Telkom dan BUMN lainnya.

Penguatan jejaring dengan BUMN ini tidak hanya terkait beasiswa dan pengembangan skill mahasiswa, tetapi juga mengusahakan agar dana-dana Corporate Social Responsibility (CSR) mereka dapat mengalir untuk pengembangan UIN Alauddin. Selama satu tahun terakhir, PLN telah membuat taman baca elektrik yang indah di tengah-tengah kampus.

Sebelum pandemi Covid 19, dalam upaya memperluas jejaring internasional sebagai salah satu pancacita akademik, UIN Alauddin Makassar dipercaya oleh pihak kedutaan Kanada untuk mengambil bagian dalam program pertukaran pelajar di Canada. UIN Alauddin Makassar menjadi satu satunya universitas dalam naungan PTKIN yang mendapatkan kesempatan untuk mengirim mahasiswa-mahasiswanya selama satu semester atau dua semester di universitas-universitas Kanada. Hanya saja, karena pandemi, maka program tersebut mengalami penundaan.

Di tahun ini pula, kami mendirikan Unit Pengelolaan Zakat (UPZ) UIN Alauddin dibawah koordinasi langsung Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). Sejak berdirinya, sudah berpartisipasi langsung untuk menyerap zakat, infaq, sadaqah, dan sumbangan dari warga kampus dan selanjutnya bekerjasama dengan Pusat Pengabdian kepada Masyarakat untuk penyaluran bantuan kepada masyarakat yang terkena bencana, baik yang bersifat alam maupun non-alam.

Oh iya Prof, selama satu tahun ini beberapa kali mahasiswa melakukan aksi demonstrasi, terakhir adalah tuntutan pembebasan UKT, bagaimana anda meresponnya?

Gerakan mahasiswa yang menuntut pembebasan UKT adalah bagian dari dinamika kampus yang perlu dipikirkan solusinya secara arif dan bijaksana.

Kita tidak pernah diam terkait suara mereka. Suara mereka juga menjadi pertimbangan pimpinan dalam merumuskan kebijakan yang tidak merugikan institusi sekaligus tidak abai terhadap situasi dan kondisi mahasiswa. Kita tidak anti kritik, kritik konstruktif adalah bagian dari proses check and balance.

Makanya, dua keputusan rektor terkait keringanan pembayaran UKT adalah bentuk respon dan pemihakan pimpinan terhadap tuntutan mahasiswa. Tentu saja, tidak mungkin menyetujui pembebasan UKT, hanya bisa memberikan porsi keringanan pembayaran UKT yang signifikan kepada mahasiswa yang terdampak akibat pandemi.

Kami terus berusaha mencari jalan untuk meringankan beban mahasiswa selama pandemi Covid-19 ini. Di awal pandemi, kita memberikan paket sembako kepada mahasiswa terutama yang masih bertahan di kos-kos dan kontrakan.

Aksi kemanusiaan dan kepedulian tersebut juga ditunjukkan oleh beberapa prodi dalam lingkungan kampus. Semua ikhtiar ini menunjukkan bahwa kita tidak diam dengan kondisi sulit para mahasiswa selama pandemi ini.

Terakhir Prof, apa pesan dan harapan selaku Rektor kepada seluruh sivitas akademik dan keluarga besar UIN Alauddin Makassar?

Apa yang kita lakukan ini bentuk kecintaan kita kepada universitas. Kita bekerja bukan untuk pencitraan diri. Kita ingin UIN Alauddin Makassar bisa sejajar dengan universitas-universitas maju baik di dalam maupun di luar negeri. Alasan untuk sejajar bahkan lebih bukanlah hal yang utopis.

Tercatat tahun 2020 ini UIN Alauddin menjadi perguruan tinggi paling diminati dalam Ujian Masuk Perguruan Tinggi Kegamaan Islam Negeri (UMPTKIN), dengan jumlah pendaftar secara total 24,482 pendaftar. Menjadi PTKIN dengan pendaftar terbanyak adalah bukti valid yang tidak perlu lagi diperdebatkan, bahwa kualitas kampus kita terus meningkat.

Mari kita bumikan Pancacita demi UIN Alauddin Makassar yang lebih maju dan berperadaban. Seperti yang saya sering bunyikan, mari terus bersinergi, karena sinergi pastinya menghadirkan energi. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments