29 C
Makassar
Thursday, March 4, 2021
Home Kolom Opini Hakikat Politik Adalah Kemashlahatan, Bukan Kemudharatan

Hakikat Politik Adalah Kemashlahatan, Bukan Kemudharatan

Muh. Jamil RamadhanKader PMII Metro Makassar

Dinamika kehidupan bernegara lahir dari berbagai peristiwa, termasuk peristiwa politik yang terjadi di suatu negara. Indonesia sendiri mempunyai banyak kenangan dan goresan tentang perpolitikan. Pahit manis dan jatuh bangun, serta lengser melengserkan adalah peristiwa yang mewarnai jalannya proses sejarah politik bangsa kita.

Konsep politik merupakan istilah yang dipergunakan untuk konsep pengaturan masyarakat, sebab dalam pengertiannya, politik dibahas berkenaan dengan bagaimana pemeritahan dijalankan agar terwujud sebuah masyarakat yang baik, damai, dan tentram dalam suatu negara. 

Di Indonesia sendiri, dunia perpolitikan diprakarsai oleh partai politik, meski beberapa partai yang lahir pada masa perjuangan kemerdekaan hanya bertujuan untuk membangun kekuatan dan persatuan bangsa untuk mencapai kemerdekaan saat itu. Namun semakin ke sini, peran partai politik dalam memegang kendali elit sangat gencar dan tanpa celah. Politik kepentingan yang diperankan oleh banyak partai sampai hari ini cukup menggambarkan keruwetan kita dalam menjalankan konsep kemasyarakatan untuk membangun dan memajukan bangsa.

Imajinasi kita tentang partai politik adalah bagaimana menjadi ruang dialektika ide dan gagasan untuk membangun masyarakat. Atau menjadi kendaraan politik untuk menciptakan kedamaian, ketentraman masyarakat dengan kaidah kemanusiaan. Namun sepertinya ini hanya sekedar imajinasi kita semata. Tujuan kita dalam bernegara belum bisa tercapai dengan kiprah partai politik yang seperti sekarang ini.

Kita perlu menelik sedikit bahwa setiap partai politik yang bertarung dalam perhelatan pemilihan umum misalnya, bukan sekedar berkompetisi untuk mendapatkan suara, simpati rakyat, atau apresiasi, yang ada malah masing-masing memperjuangkan kepentingan dan jatah kekuasaan.

Lihat saja di setiap pemilihan umum, yang dimainkan hanyalah politik saling menjatuhkan, adu ketenaran, hingga kebohongan sampai akhirnya lahir cacian dan makian karna ambisi yang tercampur emosi. Dan tanpa malu, ditampilkan di berbagai media informasi, seolah perdebatan itu tentang kemashlahatan, padahal malah melahirkan kemudharatan.

Pertarungan politik yang kotor adalah bagaimana seorang pemeran memasuki berbagai lini kehidupan masyarakat untuk menyabet simpati. Ranah pendidikan, ranah ekonomi, budaya, bahkan agama semua dipolitisir untuk mencapai simpati rakyat. Sadar atau tidak dengan adanya politisasi tersebut, membuat kita semakin jauh dari tujuan politik, sebagai alat untuk menyejahterahkan rakyat banyak. Populisme dalam politik adalah penentu dalam menghadirkan sebuah peran dalam membangun kekuatan masing-masing kelompok dalam pergelutan ini. Dan politisasi agama adalah kejahatan terbesar yang dilakukan oleh pemrakarsa populisme.

Alih-alih membangun fanatisme dengan keagungan yang simbolis atas nama agama. Seakan pembelaan terhadap agama dan Tuhannya adalah segala-galanya di dunia ini, padahal desain besar di balik semua ini adalah menarik simpati secara politis untuk menunjukkan kelompok tertentulah yang paling benar. Sementara di sisi lain, investasi kebencian terhadap sesuatu yang dianggap berlawanan yang mencoreng nilai-nilai kemanusiaan atas persamaan hidup adalah sesuatu yang tak terhiraukan lagi.

Di tahun 2020 ini, momen pilkada akan berlangsung di berbagai daerah. Harapan kita, semoga ada itikad baik dari para pegiat politik di masing-masing partai untuk memperbaiki karakter berpolitik bangsa kita. Sehingga apa yang menjadi amanat Undang-undang No.2 Tahun 2008 Tentang Partai Politik mengenai falsafah dicetuskannya partai politik untuk mewujudkan sebuah masyarakat yang baik, damai, dan tentram dalam suatu negara dapat terwujud. Terakhir, saya kutipkan isi Undang-undang tersebut, sebagai refleksi bagi kita bersama.

“Kehidupan berbangsa dan bernegara adalah cara tuhan untuk memberi kita ujian dalam proses hidup dengan berbagai dinamika didalamnya. Kita tidak bisa mengelakkan bahwa dalam sekumpulan itu kita mempunyai banyak keragaman dan perbedaan itulah hakikatnya. Politik kebangsaan hakikatnya adalah jalan untuk mencapai cita-cita demokrasi dan seharusnya menjadi pondasi setiap insan yang hidup di negara ini agar jalan menuju kesejahteraan bersama dapat tercipta. Bukan malah menciderai demokrasi dengan dengan politik kepentingan”.

Avatar
Redaksihttps://sivitas.id
Sivitas.id adalah portal berita online berbasis kampus yang didedikasikan sebagai ruang diskursif warga kampus. Anda bisa mengirimkan tulisan anda ke email redaksi di redaksi@sivitas.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments